Bioteknologi


A Prinsip Dasar Bioteknologi

Di antara kita mungkin sudah sering mendengar kata bioteknologi. Akan

tetapi, Apakah bioteknologi itu? Menurut Yuwono (2006: 1), bioteknologi

memiliki pengertian penerapan prinsip-prinsip biologi, biokimia, dan

rekayasa dalam pengolahan bahan dengan memanfaatkan agensia jasad hidup

dan komponen-komponennya untuk menghasilkan barang dan jasa.

Dengan melihat pengertian tersebut, semua produk atau jasa yang berasal

dari jasad hidup atau komponennya dan yang dihasilkan dari penerapan

teknik biologi, biokimia, dan rekayasa adalah produk atau jasa bioteknologi.

Apakah tempe dan tape termasuk produk bioteknologi? Jika Anda kembali

melihat pengertian bioteknologi, beberapa produk jasad hidup yang telah

dikembangkan ratusan tahun yang lalu, seperti yogurt, kefir, dan tempe,

merupakan produk bioteknologi.

Anda mungkin telah menjadi salah satu konsumen makanan produk

bioteknologi yang dibuat sederhana. Beberapa jenis minuman

tradisional, seperti tuak dan arak, juga dibuat dibuat dengan menggunakan

bioteknologi sederhana. Nenek moyang kita menemukan teknologi ini secara

tidak sengaja. Kemudian, teknik ini diturunkan dari generasi ke generasi.Dalam batasan pengertian bioteknologi, ada beberapa ciri dari suatu

proses bioteknologi. Ciri-ciri tersebut sebagai berikut.

1. Adanya agen biologi yang dipergunakan. Agen biologi yang dipergunakan

ini tidak hanya dalam bentuk fisik yang dipanen, namun juga termasuk

di dalamnya adalah hasil metabolit sekunder atau enzim yang dihasilkan.

2. Penggunaan agen biologi dilakukan dengan suatu cara atau metode

tertentu.

3. Adanya produk turunan atau jasa yang dipakai dari proses penggunaan

agen biologi tersebut.

Penerapan dari ciri-ciri bioteknologi tersebut adalah dalam proses pembuatan

tape yang menggunakan ragi, atau pembuatan tempe dengan bantuan

Rhizopus sp. Proses ini dilakukan dengan tahapan tertentu dan memanfaatkan

enzim yang dihasilkan oleh agen biologi. Dalam pembuatan tape, ragi

(Saccharomyces cereviceae) mengeluarkan enzim yang dapat memecah karbohidrat

pada beras ketan atau singkong menjadi gula yang lebih sederhana.

Adapun pada pembuatan tempe, Rhizopus sp. mengeluarkan enzim proteinase

yang memecah protein kedelai menjadi protein yang lebih sederhana.

Berbagai kemajuan yang dicapai di bidang ilmu biologi dan ilmu

rekayasa lainnya turut mendorong kemajuan pemanfaatan agen biologi secara

lebih maju lagi. Selain itu, kondisi kehidupan saat ini juga menuntut adanyaperbaikan terhadap kualitas kehidupan dan kualitas lingkungan sebagai

pendukung. Oleh karenanya, diperlukan teknologi

alternatif yang terus dikembangkan.

Beberapa faktor yang menyebabkan teknologi alternatif perlu terus

dikembangkan adalah:

1. kelaparan yang terjadi akibat tidak seimbangnya populasi manusia

dengan tumbuhan pangan yang diproduksi;

2. semakin tereksplorasi kehidupan di dalam laut yang menciptakan

banyak sekali potensi untuk dikembangkan dalam berbagai bidang

seperti pangan, kesehatan, dan pengembangan di bidang lainnya;

3. semakin berkurangnya sumber daya bahan bakar fosil dan meningkatnya

polusi akibat dari penggunaan bahan bakar fosil ini;

4. peningkatan pencemaran lingkungan yang memerlukan penanggulangan

dengan cara yang lebih alami;

5. penemuan prinsip-prinsip rekayasa genetika dalam penciptaan varietas

spesies baru dan terapi penyakit;

6. penemuan di bidang kesehatan mulai dari pembentukan antibodi, terapi

kanker atau tumor, produksi hormon, identifikasi tumbuhan obat yang

bermanfaat, serta penemuan lain di bidang farmasi.

Berdasarkan beberapa faktor penyebab di atas maka ada beberapa hal

yang menjadi prioritas utama pengembangan bioteknologi, yakni di bidang

pangan, lingkungan, kesehatan, dan sumber energi.

Bioteknologi selalu berkaitan dengan reaksi-reaksi biologis yang

dilakukan oleh jasad hidup. Jasad hidup yang sering dimanfaatkan dalam

biteknologi adalah mikroorganisme. Mengapa? Jasad hidup yang dimanfaatkan

bisa dalam bentuk individu atau komponen-komponen tubuhnya, seperti

organel, sel, jaringan, bahkan bisa dalam bentuk molekul-molekul tertentu

(misalnya, protein, enzim, DNA, atau RNA).B Jenis-Jenis Bioteknologi

Secara umum, bioteknologi dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni

bioteknologi konvensional (sederhana) dan bioteknologi modern. Bioteknologi

konvensional menggunakan penerapan-penerapan biologi,

biokimia, atau rekayasa masih dalam tingkat yang terbatas. Bioteknologi

jenis ini belum menggunakan teknik rekayasa molekuler dengan tingkatan

yang rumit dan terarah. Kalaupun menggunakan rekayasa molekuler,

rekayasa tersebut belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Bioteknologi

konvensional menggunakan jasad hidup sebagaimana ”apa adanya”. Apakah

contoh produk bioteknologi konvensional?

Bioteknologi modern telah menggunakan teknik rekayasa tingkat tinggi

dan terarah sehingga hasilnya dapat dikendalikan dengan baik. Teknik yang

sering digunakan saat ini adalah dengan melakukan manipulasi genetik pada

suatu jasad hidup secara terarah sehingga diperoleh hasil sesuai dengan

yang diinginkan. Perkembangan bioteknologi modern tidak terlepas dari

terkuaknya misteri struktur DNA.Teknik manipulasi yang sering digunakan dalam bioteknologi modern

adalah teknik manipulasi bahan genetik (DNA) secara in vitro. In vitro, adalah

proses biologi yang berlangsung dalam kondisi percobaan di luar sel atau

organisme, misalnya dalam tabung percobaan. Dengan teknik

yang dikenal dengan DNA rekombinan atau rekayasa genetika, para ilmuwan

dapat menyambung molekul-molekul DNA dari jasad hidup yang berbeda

menjadi suatu molekul DNA rekombinan. Rekayasa genetika telah menjadi

tulang punggung dari bioteknolgi modern saat ini (Yuwono, 2006: 2).C Sifat Dasar Mikroorganisme

Sumber agen biologi yang diperlukan dalam proses bioteknologi, dapat

diperoleh dengan cara mengembangbiakan atau menumbuhkan organisme

tertentu. Sebagian besar organisme yang digunakan dalam mikroorganisme.

Oleh karena itu, pengetahuan dan kemampuan menumbuhkan mikroorganisme

menjadi hal yang penting dalam bioteknologi.Sebelum ilmuwan dapat menggunakan mikroorganisme untuk keperluan

fermentasi atau proses bioteknologi lainnya, mereka harus dapat menumbuhkan

kultur murni yang tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme jenis lain.

Kultur tersebut hanya mengandung mikroorganisme yang diperlukan.

Mikroorganisme merupakan agen yang digunakan secara luas dalam

proses bioteknologi. Pada dasarnya, mikroorganisme tidak menyediakan

suatu produk untuk kita, tetapi mikroorganisme melakukan proses-proses

dasar metabolisme untuk dirinya sendiri dalam berkembang biak. Pada

proses pembuatan yoghurt, susu merupakan media yang kaya akan protein

dan sangat digemari oleh bakteri ataupun jamur. Bakteri Lactobacillus

bulgaricus yang ditambahkan ke dalam susu akan memfermentasi susu

tersebut dan menghasilkan produk olahan yang kita sebut dengan yoghurt.

Protein dalam susu seperti kasein diubah menjadi asam laktat oleh bakteri

sehingga rasa yoghurt menjadi asam. Semakin banyak asam laktat yang

diproduksi, semakin banyak juga jumlah bakteri Lactobacillus bulgaricus

yang ada.

Selain produksi enzim, yang merupakan dasar dari pembuatan produk

berbasiskan bioteknologi konvensional, mikroorganisme juga dimanfaatkan

karena pertumbuhannya yang sangat cepat. Pembelahan sel mikroorganisme

terjadi dalam waktu singkat dan cepat sehingga dalam waktu 24 jam dapat

diperoleh keturunan berjumlah banyak. Dalam waktu singkat dengan jumlah

yang banyak, maka efisiensi penggunaan waktu oleh mikroorganisme

menjadi sangat tinggi. Pengetahuan dasar mengenai mikroorganisme

(dibahas dalam cabang ilmu biologi, yakni mikrobiologi) mutlak diperlukan

dalam proses pengembangan bioteknologi selanjutnya.

Beberapa alasan yang menyebabkan mikroorganisme tersebut digunakan

dalam bioteknologi adalah karena mikroorganisme memiliki sifat-sifat dasar

seperti sebagai berikut.

1. Perkembangbiakkan mikroorganisme relatif sangat cepat.

2. Sifat dasar dari mikroorganisme relatif mudah dimodifikasi, misalnya

dengan teknik rekayasa genetik.

3. Mikroorganisme mampu memproses bahan baku lebih cepat dibandingkan

yang dilakukan hewan maupun tumbuhan sehingga mampu mempercepat

kecepatan produksi.

Diketahuinya sifat dasar dari mikroorganisme, seperti pengetahuan

mengenai adanya plasmid, menggugah penelitan yang lebih jauh lagi

mengenai potensi transgenik (pemindahan gen). Dalam dunia kesehatan,

bakteri ini digunakan dalam memproduksi enzim atau hormon yang berguna

dalam pengobatan pasien seperti penggunaan bakteri dalam produksi

hormon insulin.

Contoh metabolisme mikroorganisme yang dimanfaatkan di dalam

dunia kesehatan adalah penemuan zat antibiotik dari jamur Penicillium sp.

yang ditemukan oleh Alexander Flemming pada 1928. Dalam perkembangan

selanjutnya, ide mengenai kemampuan metabolisme mikroorganisme,

plasmid, dan kemampuan reproduksi menjadi fokus utama dalam penelitian

bioteknologi. Selain itu, dikembangkan juga bioteknologi berbasis hewan

dan manusia dalam teknologi kloning.

D Produk dan Jasa

Produk dan jasa bioteknologi mampu memberikan manfaat bagi makhluk

hidup, khususnya manusia. Contohnya, dahulu untuk memperoleh 1 cc

hormon insulin bagi penderita diabetes, diperlukan perasan sekitar sembilan

lambung babi. Akan tetapi, dengan adanya teknologi transfer DNA, fragmen

DNA penghasil hormon insulin ini dapat dicangkokan pada plasmid sehingga

akan ikut dalam metabolisme sel bakteri dan diperoleh hormon insulin kotor.

Melalui teknik pemurnian, maka hormon insulin dapat diberikan pada

penderita. Selain produk yang sangat menolong ini, ada banyak jenis produk

dan jasa bioteknologi dalam kehidupan. Perhatikan penjelasan berikut.

1. Bioteknologi dalam Bidang Pengolahan Pangan

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita berkaitan erat dengan

bioteknologi. Beberapa jenis makanan dan minuman yang kita konsumsi

sebenarnya merupakan produk dari bioteknologi. Tape, roti, keju, atau

yoghurt adalah beberapa produk bioteknologi yang biasa dikonsumsi. Proses

untuk mengolah beberapa jenis makanan tersebut biasa disebut bioteknologi

sederhana. Apakah Anda tahu mikroorganisme yang berperan dalam pembuatannya?

Berikut contoh makanan dan minuman hasil dari bioteknologi.

a. Yoghurt

Yoghurt merupakan minuman hasil fermentasi susu menggunakan

bakteri Lactobacillus substilis atau Lactobacillus bulgaricus (Gambar 8.5). Bakteri

yang di manfaatkan mampu mendegradasi protein dalam susu menjadi asam

laktat. Proses degradasi ini disebut fermentasi asam laktat dan hasil akhirnya

dinamakan yoghurt.

b. Keju

Keju merupakan contoh produk bioteknologi yang cukup terkenal. Keju dibuat dengan bantuan bakteri pada susu. Bakteri

tersebut dikenal sebagai bakteri asam laktat atau Lactobacillus. Bakteri

Lactobacillus mengubah laktosa menjadi asam laktat dan menyebabkan susu

menggumpal.Setelah susu berubah menjadi curd, garam ditambahkan. Garam ini selain

untuk menambahkan rasa, berfungsi juga sebagai bahan pengawet. Bakteri

kemudian ditambahkan sesuai dengan tipe keju yang akan dibuat. Bakteriyang ditambahkan ini disebut bakteri pematang. Bakteri pematang berguna

memecah protein dan lemak yang terdapat dalam keju.

Beberapa jenis keju mempunyai karakteristik tertentu dengan ditambahkan

mikroba lain, seperti jamur. Contohnya terdapat pada keju biru, yang

mempunyai karakteristik berwarna biru karena ditambahkan jamur pada

curd kejunya. Untuk mempercepat produksi keju, dapat ditambahkan enzim

bakteri selain bakteri pematang itu sendiri.

c. Tempe

Tempe adalah makanan khas Indonesia. Tempe merupakan makanan

yang terkenal di Asia Tenggara dan juga merupakan salah satu contoh produk

hasil bioteknologi. Tempe terbuat dari kacang kedelai. Karena terbuat dari

kacang kedelai yang merupakan sumber protein tinggi, tempe juga merupakan

makanan yang mempunyai nilai gizi tinggi.

Tempe dibuat dari kacang kedelai dengan dibantu oleh aktivitas jamur

Rhizopus oryzae. Proses pembuatan tempe cukup sederhana dan

mudah dilakukan. Kacang kedelai dicuci bersih, lalu direbus hingga setengah

matang. Kemudian, kacang kedelai setengah matang direndam dalam air

selama kurang lebih 12 jam (semalaman).

Dengan direndamnya kacang kedelai, dapat menciptakan kondisi asam

sehingga mikroba yang biasanya membusukkan makanan dapat dicegah.

Setelah direndam, kacang kedelai kembali dicuci bersih dan direbus kembali

hingga matang.

Pada pembuatan keju, kondisi pH harus rendah. Kondisi pH yang rendah

membuat susu mengental. Akibatnya protein pada susu berubah menjadi

semi solid yang disebut curd. Proses ini dibantu dengan menambahkan enzim

renin. Enzim renin dapat diekstrak dari perut anak sapi. Namun, saat ini

enzim renin dapat diproduksi dalam skala besar dengan menggunakan teknik

rekayasa genetika.Kacang kedelai yang telah matang tersebut lalu didinginkan dan setelah

dingin ditambahkan ragi tempe. Ragi tempe adalah jamur Rhizopus oryzae.

Kacang kedelai yang telah dicampur dengan ragi tempe, lalu dibungkus

oleh daun pisang atau plastik yang dilubangi. Setelah dibungkus, lalu diperam

(difermentasi) selama satu malam. Akhirnya diperoleh tempe sebagai produk

bioteknologi.d. Tahu

Tahu juga merupakan salah satu contoh produk bioteknologi. Sebagai orang

Indonesia, Anda pasti telah mengenal makanan yang bernama tahu, bukan?

Tahu, seperti juga tempe, terbuat dari kacang kedelai. Tahu dibuat dengan

cara mencuci kacang kedelai hingga bersih dan merendamnya selama satu

malam. Setelah lunak, kacang kedelai digiling menjadi seperti bubur, lalu

dididihkan. Setelah dididihkan, bubur kedelai disaring dan ditambahkan

kultur bakteri yang dapat menciptakan kondisi asam. Beberapa jenis bakteri

yang sering digunakan dalam pembuatan tahu ini adalah bakteri asam laktat.

Bubur tahu yang telah ditambahkan bakteri asam laktat ini lalu dicetak,

dibumbui, dan diberi garam agar tahan lama2. Bioteknologi dalam Bidang Kesehatan

Dalam bidang kesehatan, bioteknologi sudah lama digunakan. Misalnya,

dalam pembuatan antibiotik yang dilakukan oleh Alexander Flemming pada

tahun 1928. Selain dalam pembuatan antibiotik, bioteknologi berperan dalam

bidang kesehatan lainnya, seperti pada pembuatan hormon dan bayi tabung.

a. Antibiotik

Antibiotik merupakan senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme

tertentu atau dibuat secara semisintetis. Antibiotik berguna menghambat

atau membunuh pertumbuhan kuman penyebab penyakit.

Antibiotik pertama yang ditemukan adalah antibiotik yang dihasilkan

dari jamur Penicillium notatum. Penisilin ini adalah antibiotik

yang ampuh melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus.

Antibiotik lainnya yang sekarang banyak dipakai adalah antibiotik yang

berasal dari genus Streptomyces. Antibiotik yang termasuk kelompok ini

adalah Streptomycin dan Tetracycline. Antibiotik tersebut sangat ampuh

melawan bakteri Tubercullosis.

b. Hormon

Terdapat penyakit-penyakit tertentu pada manusia yang disebabkan

oleh adanya masalah pada hormon. Misalnya, penyakit diabetes mellitus (DM)

atau lebih dikenal sebagai penyakit kencing manis. Penderita penyakit ini

kekurangan hormon insulin sehingga kadar gula dalam darahnya sangat

tinggi. Dengan adanya bioteknologi, saat ini hormon insulin telah dapat

dihasilkan secara buatan (transgenik) dengan bantuan bakteri Escherichia

coli.Pada sel bakteri E. coli, dimasukkan DNA sel manusia yang mengandung

gen insulin sehingga bakteri E. coli dapat menghasilkan insulin. Karena

bakteri dapat berkembang biak dengan cepat maka hormon insulin pun dapat

dihasilkan dalam jumlah yang banyak.c. Bayi Tabung

Untuk dapat menghasilkan seorang bayi, harus terjadi pertemuan antara

sel telur ibu dan sel sperma ayah. Kadang kala proses pertemuan sel telur

dan sel sperma (fertilisasi) tidak dapat terjadi secara baik. Hal tersebut dapat

disebabkan oleh adanya penghalang di saluran telur, atau karena kualitas

sperma yang kurang bagus sehingga tidak dapat mencapai sel telur.

Jika terjadi masalah tersebut, dapat diatasi dengan teknologi yang

disebut teknologi bayi tabung. Teknik bayi tabung ini adalah

teknik untuk mempertemukan sel sperma dan sel telur di luar tubuh sang

ibu (in vitro fertilization). Setelah terjadi pertemuan antara sel sperma dan sel

telur ini terjadi, proses selanjutnya, embrio yang dihasilkan ditanamkan

kembali di rahim ibu hingga terbentuk bayi dan dilahirkan secara normal.

3. Bioteknologi dalam Bidang Pertanian dan Perkebunan

Bioteknologi ikut berperan dalam memajukan bidang pertanian dan

perkebunan. Di bidang pertanian, bioteknologi telah mampu menciptakan

tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat unggul, seperti tahan terhadap

hama, produksi panen yang lebih banyak, dan waktu panen yang lebih singkat.

Tumbuhan yang memiliki sifat unggul tersebut dapat diperoleh melalui

rekayasa genetika, yaitu dengan memasukkan gen-gen yang memiliki sifat

yang dikehendaki pada tumbuhan tersebut. Tumbuhan seperti ini disebut

sebagai tumbuhan transgenik.

Tumbuhan transgenik pada dasarnya diperoleh melalui teknik memindahkan

gen-gen tertentu yang dikehendaki dari organisme lain yang memilikinya.

Misalnya, tumbuhan kentang hasil rekayasa genetika yang dilakukan

di Cina. Tumbuhan kentang adalah tumbuhan yang tumbuh subur di daerah

tropis dan tidak bisa tumbuh di tempat dingin. Oleh karena itu, pada musim

dingin kentang tidak bisa tumbuh di Cina. Untuk mengatasi kendala tersebut

maka para ilmuwan Cina memasukkan gen tahan dingin dari ikan yang hidup

di tempat dingin ke dalam gen kentang sehingga diperoleh kentang yang

tahan dingin dan dapat ditanam di daerah yang beriklim dingin.Contoh tumbuhan-tumbuhan transgenik lainnya yang telah berhasil

dibuat adalah tumbuhan yang dapat melakukan pemupukan sendiri,

tumbuhan yang tahan terhadap penyakit tertentu, dan tumbuhan yang dapat

menghasilkan pestisida sendiri.

Dalam hal pestisida atau pembasmian hama tumbuhan, bioteknologi

juga telah berhasil mengembangkan pestisida alami dengan menggunakan

makhluk hidup yang berperan sebagi agen pengendali secara alami atau

disebut biological control agent. Misalnya, pada tumbuhan kubis yang sering

diserang oleh hama berupa larva ulat Lepidoptera.

Dengan bantuan bioteknologi, larva Lepidoptera tersebut dapat dibasmi

dengan menggunakan bakteri Bacillus thuringiensis (Bt). Bakteri

Bt secara alami menghasilkan racun bagi larva Lepidoptera, namun tidak

berbahaya bagi makhluk hidup lain selain larva tersebut. Kini, bakteri Bt

telah diproduksi dalam skala industri dan telah dipasarkan sebagai pestisida

alami. Bahkan kini terdapat tumbuhan jagung yang telah disisipi gen bakteri

Bt sehingga mampu menghasilkan pestisida sendiri.

Peran bioteknologi lainnya dalam bidang pertanian dan perkebunan

adalah dengan ditemukannya teknik kultur jaringan. Teknik kultur jaringan

merupakan suatu teknik memperbanyak tumbuhan dalam skala besar dan

waktu yang singkat.

Teknik kultur jaringan dibuat dengan mengambil sel atau jaringan pada

tumbuhan, bisa melalui potongan kecil daun, akar, batang, atau bagian

tumbuhan yang lainnya. Potongan tumbuhan tersebut lalu ditumbuhkan di

suatu medium yang telah dipersiapkan dan mengandung semua zat yang

diperlukan untuk pertumbuhan tumbuhan. Dari potongan tumbuhan

tersebut, akan tumbuh menjadi individu baru yang utuh.

Teknik kultur jaringan ini menggunakan sifat totipotensi sel. Sifat totipotensi

adalah sifat sel yang mampu menjadi satu individu baru utuh.Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari teknik kultur

jaringan ini adalah:

a. dapat dilakukan di lahan yang sempit, artinya tidak diperlukan lahan

yang luas untuk memproduksi bibit tumbuhan yang banyak;

b. bibit tumbuhan dapat diperoleh dalam jumlah yang banyak dengan

waktu yang singkat;

c. bibit tumbuhan yang didapat dari teknik kultur jaringan mempunyai

sifat yang seragam dan sama dengan induk tumbuhannya.

4. Bioteknologi dalam Bidang Peternakan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bioteknologi telah berhasil

menciptakan hormon yang diproduksi oleh mikroorganisme. Ternyata,

produksi hormon tersebut diperlukan juga dalam bidang peternakan.

Saat ini, hewan-hewan ternak biasa diberi vaksin dan hormon pertumbuhan

sehingga hewan-hewan ternak tahan terhadap penyakit tertentu

dan produksinya meningkat.

Contohnya, beberapa sapi diberi hormon pertumbuhan sapi Bovine

Growth Hormone (BGH) yang dibuat dari bakteri E. coli berguna untuk menaikkan

produksi susu. Dengan diberikannya BGH, produksi daging yang

dihasilkan juga dapat meningkat.

Vaksin hasil bioteknologi juga telah banyak berperan dalam bidang

peternakan. Misalnya, vaksin yang diberikan kepada sapi untuk mencegah

penularan penyakit mulut dan kuku, juga vaksin yang diberikan kepada

ternak unggas untuk mencegah penyakit tetelo atau new castle disease (NCD).

5. Bioteknologi dalam Bidang Pengelolaan Lingkungan

Dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup, bioteknologi juga

memegang peranan yang penting. Misalnya, penggunaan bakteri aktif di

instalansi-instalansi pengolahan air limbah. Untuk mengefisienkan

pengolahan limbah, digunakan mikroorganisme yang dapat mengubah

sampah organik menjadi substansi yang lebih sederhana.

Penggunaan mikroorganisme untuk pengelolaan lingkungan juga telah

terbukti ketika terjadi kebocoran kapal tanker. Minyak mentah yang

mencemari pantai dibersihkan menggunakan bakteri yang dapat mengurai

minyak mentah tersebut. Contoh lain penerapan bioteknologi dalam bidang pengelolaan lingkungan

adalah pembuatan biogas dari limbah-limbah organik yang ada. Biogas ini

dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

E Implikasi Bioteknologi

Teknologi yang diciptakan oleh manusia tentu mempunyai implikasi

terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan ditemukan dan

digunakannya bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari.

1. Implikasi dalam Kehidupan

Adanya perkembangan dalam bioteknologi telah menimbulkan harapan

baru bagi kesembuhan penderita kelainan-kelainan genetis. Penyediaan obatobatan

dapat dilakukan secara massal dengan harga yang lebih murah.

Perkembangan bibit unggul dan reproduksi tumbuhan secara cepat dengan

hasil yang maksimal juga menjadi keuntungan yang dapat dirasakan oleh

masyarakat luas.

Namun dibalik semua harapan itu, terdapat pengaruh lain yang harus

diwaspasai. Produk bioteknologi yang dipatenkan, umumnya berasal dari

luar negeri, dapat membantu petani sekaligus menciptakan ketergantungan

penggunaan bibit. Pada umumnya, tumbuhan transgenik merupakan

tumbuhan steril dan tidak dapat diperbanyak secara konvensional. Hal ini

sangat merugikan petani karena untuk mendapatkannya mereka harus terus

membeli bibit dan tidak dapat melakukan pembibitan. Dengan begitu, maka

akan terjadi kebergantungan dari negara penghasil pangan ke negara

penghasil bibit.

Teknologi bayi tabung dan teknologi kloning merupakan salah satu

contoh teknologi yang masih diperdebatkan hingga kini. Mungkin untuk

teknologi bayi tabung yang menggunakan sel sperma dan sel telur dari

pasangan suami istri, tidak banyak dipertentangkan dan merupakan jalan

keluar bagi pasangan yang sulit memiliki keturunan. Bagaimana jika sel telur

ditanam pada wanita lain? Apa pendapat Anda jika sel sperma didapat bukan

dari pasangan suami istri?

Begitu juga dengan teknologi kloning. Meskipun teknologi ini membawa

harapan bagi penderita kelainan genetis, namun kloning pada manusia

ditentang banyak kalangan karena dianggap bertentangan dengan moral,

agama, dan etika. Teknologi kloning yang pernah dilakukan adalah pada

domba Dolly.Dampak yang mungkin kurang diperhatikan adalah dampak yang timbul

pada kehidupan liar. Penggunaan tumbuhan transgenik yang tahan terhadap

hama pengganggu, ternyata mengakibatkan masalah terhadap organisme

non target. Beberapa jenis burung yang secara alami memakan hama

pengganggu dan kupu-kupu penghisap nektar bunga tumbuhan transgenik

dapat terkena imbasnya juga. Pengamatan di lokasi percobaan tumbuhan

kapas transgenik yang disisipi gen bersifat insektisida dan herbisida,

ditemukan kematian lebah dalam jumlah yang cukup tinggi.

Jika hal ini sudah terjadi dan terlanjur dibiarkan maka Indonesia sebagai

negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan penghasil pangan

akan sangat dirugikan. Keanekaragaman hayati kita adalah sumber dari ilmu

pengetahuan yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan bangsanya.

Jadi, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya

perkembangan dalam bioteknologi memiliki dampak yang positif maupun

yang negatif. Oleh karena itu, dalam menggunakan bioteknologi, manusia

dituntut untuk berperilaku bijak, tidak berlebihan, dan memerhatikan

dampaknya di masa yang akan datang.

2. Polemik dalam Pengembangan Teknologi

Teknologi yang diciptakan pada awalnya betujuan untuk membantu.

Namun, karena keterbatasan manusia dalam memprediksi mengakibatkan

kurang cermatnya penanggulangan dampak akibat teknologi yang

dikembangkan itu. Dalam memprediksi hal tersebut, maka banyak sekali

perdebatan mengenai dampak yang akan diterima dikemudian hari.

Organisasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) internasional banyak yang

mengkhawatirkan dampak lanjutan akibat mengonsumsi organisme yangtelah mengalami modifikasi genetik (GMO = genetic modified organism). Bentuk

kehati-hatian terhadap peredaran benih transgenik mungkin dapat dilihat

dari contoh kasus berikut.

Penggunaan GMO secara luas telah dilakukan di Amerika. Hampir 57

persen dari kacang kedelai dan 30 persen dari tumbuhan jagung yang

dibudidayakan di Amerika pada tahun 1999 adalah GMO yang resisten

terhadap serangan hama dan gulma. Pada bulan Februari 1999, setidaknya

ada 64 tumbuhan budidaya GMO yang telah disetujui oleh pemerintah Amerika

Serikat dan Kanada, 20 di Jepang, namun hanya ada delapan di Eropa.

Kehati-hatian terhadap GMO ditunjukkan oleh negara-negara Eropa

yang belum mendapat kepastian mengenai tingkat keamanan baik terhadap

manusia ataupun lingkungan secara keseluruhan. Lingkungan hidup di sekitar

kita wajib dijaga, karena meskipun tidak dapat digunakan secara langsung,

lingkungan hidup beserta kehidupan liar di dalamnya mempunyai manfaat

yang besar bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di dalamnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan lebih jauh telah mampu membawa

ilmuwan untuk bukan hanya memodifikasi, melainkan ‘menciptakan’ makhluk

hidup. Hal ini dimungkinkan dengan semakin majunya teknologi kloning

makhluk hidup. Tanpa adanya fertilisasi antara dua gamet, sebuah individu

organisme dapat diciptakan. Perkembangan kloning ini telah menuju pada

praktik kloning yang dilakukan pada manusia. Sejauh ini, belum ada satupun

negara di dunia yang melegalkan praktik kloning pada manusia dalam suatu

undang-undang atau konstitusi. Perkembangan kloning pada manusia ini

telah menimbulkan suatu polemik etika perikemanusiaan.

Meskipun pada dasarnya kloning berupaya untuk membantu pasangan

mandul yang ingin memperoleh keturunan atau membantu seseorang yang

tidak ingin memiliki pasangan untuk memeroleh keturunan. Namun, para

ahli memerhatikan efek psikologis yang terjadi apabila anak yang dilahirkan

tersebut memiliki sifat yang identik seperti orangtua biologis mereka, sebagai

konsekuensi hasil kloning. Efek psikologis yang mungkin ditimbulkan antara

lain adalah perasaan terkucil karena tidak ada kejelasan akan identitas mereka

hingga dapat mengakibatkan kerawanan sosial. Apa pendapat Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: