Posts Tagged ‘pembuluh darah’

Sistem Peredaran Darah

Organ Penyusun Sistem Peredaran Darah
Darah mengalir ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran darah. Agar
darah dapat mengalir ke seluruh tubuh, maka perlu didukung oleh alat-alat
peredaran darah, yaitu jantung dan pembuluh darah. Darah selalu beredar di
dalam pembuluh darah yaitu pembuluh nadi dan pembuluh balik sehingga
disebut dengan peredaran tertutup.
1. Darah
Darah berbentuk cairan yang berwarna merah dan agak kental. Darah
mengalir di seluruh tubuh kita, dan berhubungan langsung dengan sel-sel di
dalam tubuh kita. Darah terbentuk dari beberapa komponen, yaitu plasma
darah, sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah.
a. Komposisi darah
1) Plasma darah
Plasma darah merupakan komponen terbesar dalam darah, karena lebih
dari separuh darah mengandung plasma darah. Hampir 90% bagian dari plasma
darah adalah air. Plasma darah berfungsi untuk mengangkut sari makanan
ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel ke tempat pembuangan.
Fungsi lainnya adalah menghasilkan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit
atau zat antibodi.
Plasma darah terdiri atas air dan protein darah (4% albumin, 2,7% globulin,
dan 0,3% 􀅿 brinogen). Cairan yang tidak mengandung unsur 􀅿 brinogen

disebut serum darah. Protein dalam serum inilah yang bertindak sebagai
antibodi terhadap adanya benda asing ( antigen). Zat antibodi adalah senyawa
gama globulin yang terdapat dalam plasma darah dan berfungsi dalam sistem
kekebalan tubuh.

2) Sel darah merah ( eritrosit)
Sel darah merah merupakan bagian utama dari sel darah. Jumlah pada
pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan pada wanita sekitar 4 juta sel/cc
darah. Jumlah eritrosit bervariasi tergantung pada jenis kelamin dan usia.
Eritrosit berbentuk cakram bikonkaf, berdiameter kira-kira 8 􀁺m, dan tidak
mempunyai nukleus. Warna merah disebabkan oleh hemoglobin (Hb) yang
berwarna merah tua. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen. Setiap
hemoglobin terdiri atas protein yang disebut globin dan pigmen non protein

yang disebut heme. Setiap heme berikatan dengan
rantai polipeptida yang mengandung besi (Fe2+).
Kadar 1 Hb inilah yang dijadikan patokan dalam
menentukan penyakit anemia.
Fungsi utama hemoglobin adalah mengangkut
oksigen dari paru-paru membentuk oksihemoglobin
yang beredar ke seluruh jaringan-jaringan tubuh.
Jika kadar oksigen dalam jaringan tubuh lebih rendah
daripada dalam paru-paru maka oksihemoglobin
dibebaskan dan oksigen digunakan dalam proses
metabolisme sel. Hemoglobin juga penting dalam pengangkutan karbon
dioksida dari jaringan ke paru-paru. Selain itu, hemoglobin berperan dalam
menjaga keseimbangan asam basa (penyangga asam basa).
Pembentukan eritrosit disebut juga eritropoeisis yang terjadi di sumsum
tulang dan diatur oleh hormon glikoprotein yang disebut eritropoietin. Eritrosit
berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah tua dihancurkan di limpa atau hati,
dan sumsum merah pada tulang pipih. Sel darah merah yang sudah mati
dihancurkan di dalam hati. Hemoglobin dirombak kemudian dijadikan
pigmen bilirubin ( pigmen empedu) yang berwarna kehijauan. Pigmen empedu
diekskresikan oleh hati ke dalam empedu. Zat besi dari hemoglobin tidak
diekskresikan tetapi digunakan kembali untuk membuat eritrosit baru.

3) Sel darah putih ( leukosit)
Sel darah putih bentuknya tidak tetap. Sel darah
putih dibuat di sumsum merah, dan kelenjar
limpa. Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara
6000 – 9000 sel/cc darah. Leukosit berumur
12 hari. Fungsi utama dari sel tersebut adalah
untuk fagosit (pemakan) bibit penyakit/benda
asing yang masuk ke dalam tubuh. Fungsi fagosit
sel darah tersebut terkadang harus mencapai benda
asing/kuman jauh di luar pembuluh darah. Jumlah
sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda
asing yang masuk tubuh. Kemampuan leukosit untuk
menembus dinding pembuluh darah ( kapiler)
untuk mencapai daerah tertentu disebut diapedesis.
Peningkatan jumlah leukosit merupakan petunjuk
adanya infeksi, misalnya radang paru-paru.
Leukosit memiliki satu nukleus, bening (tidak
berwarna), dan gerakannya mirip dengan Amoeba disebut gerak amuboid.
Perhatikan gambar 4.2. Jumlah leukosit di dalam darah dapat berkurang atau
bertambah. Berkurangnya jumlah leukosit sampai di bawah 6.000 sel/cc darah
disebut leukopeni. Sedangkan bertambahnya jumlah leukosit melebihi normal
di atas 9.000 sel/cc darah disebut leukositosis. Leukosit dibagi menjadi:
a) Granulosit: leukosit yang di dalam sitoplasmanya memiliki butir-butir
kasar ( granula). Jenisnya adalah eosino􀅿 l, baso􀅿 l, dan netro􀅿 l.

(1) Eosino􀄙 l mengandung granula berwarna
merah (warna eosin) disebut juga asido􀄙 l.
Berfungsi pada reaksi alergi (terutama
infeksi cacing).
(2) Basofil mengandung granula berwarna
biru (warna basa). Berfungsi pada reaksi
alergi.
(3) Neutro􀄙 l (ada dua jenis sel yaitu neutro􀄙 l
batang dan neutrofil segmen). Disebut
juga sebagai sel-sel PMN (Poly Morpho
Nuclear). Berfungsi sebagai fagosit.
b) Agranulosit: leukosit yang sitoplasmanya tidak memiliki granula. Jenisnya
adalah limfosit dan monosit.
(1) Limfosit (ada dua jenis sel yaitu sel T dan sel B). Keduanya berfungsi
untuk menyelenggarakan imunitas (kekebalan) tubuh.
Limfosit yang tetap berada di sumsum tulang berkembang menjadi sel
B (imunitas humoral), sedangkan limfosit yang berasal dari sumsum
tulang dan pindah ke timus berkembang menjadi sel T (imunitas
seluler).
(2) Monosit merupakan leukosit dengan ukuran paling besar. Monosit
dapat berpindah dari darah ke jaringan. Di dalam jaringan, monosit
membesar dan bersifat fagosit menjadi makrofag. Makrofag bersama
dengan neutro􀅿 l merupakan leukosit fagosit utama, paling efektif,
dan berumur panjang.
Dari kelima jenis leukosit tersebut, neutro􀅿 l merupakan sel-sel yang paling
banyak menyusun leukosit.
4) Keping darah ( trombosit)
Bentuk keping darah tidak teratur dan tidak
mempunyai inti. Diproduksi pada sumsum merah,
serta berperan penting pada proses pembekuan
darah. Trombosit disebut juga sel darah pembeku.
Jumlah sel pada orang dewasa sekitar 200.000
- 500.000 sel/cc. Di dalam trombosit terdapat
banyak sekali faktor pembeku (hemostasis) antara
lain adalah Faktor VIII (Anti Haemophilic Factor).
Jika seseorang secara genetis trombositnya tidak
mengandung faktor tersebut, maka orang tersebut
menderita Hemo􀅿 li

b. Proses pembekuan darah
Jika suatu jaringan tubuh terluka maka trombosit pada permukaan
yang luka akan pecah dan mengeluarkan enzim trombokinase (tromboplastin).
Enzim ini akan mengubah protrombin menjadi trobin dengan bantuan ion
kalsium dan vitamin K. Protrombin merupakan protein yang tidak stabil
yang dibentuk di hati dan dengan mudah dapat pecah menjadi senyawasenyawa
yang lebih kecil, salah satunya adalah trombin. Selanjutnya, trombin

mengubah 􀅿 brinogen (larut dalam plasma darah) menjadi 􀅿 brin (tidak larut
dalam plasma darah) yang berbentuk benang-benang halus. Benang-benang
halus ini menjerat sel-sel darah merah dan membentuk gumpalan sehingga
darah membeku. Jika luka seseorang hanya di permukan otot, biasanya darah
cepat membeku. Tetapi, bila luka lebih dalam, diperlukan waktu yang lebih
lama agar darah membeku.

c. Golongan darah
Darah dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan
tipe antigen yang terdapat di dalam sel. Karl Landsteiner (1868–
1943) mengelompokkan golongan darah manusia berdasarkan ada tidaknya
aglutinogen, yaitu golongan darah A, B, AB, dan O.
1) Golongan darah A, jika eritrosit mengandung aglutinogen A dan aglutinin
􀁅 dalam plasma darah.
2) Golongan darah B, jika eritrosit mengandung aglutinogen B dan aglutinin
􀁄 dalam plasma darah.
3) Golongan darah AB, jika eritrosit mengandung aglutinogen A dan B, dan
dalam plasma darah tidak mengandung aglutinin.
4) Golongan darah O, jika eritrosit tidak mengandung aglutinogen A dan B,
dan plasma darah memiliki aglutinin 􀁄 dan 􀁅.

Transfusi darah adalah pemberian darah seseorang kepada orang lain.
Orang yang berperan sebagai pemberi darah disebut donor dan yang menerima
darah disebut resipien. Sel darah yang diberikan kepada resipien merupakan
senyawa protein. Bila senyawa protein tidak sesuai dengan golongan darah
resipien, maka darah resipien akan menolak darah donor. Penolakan tersebut
ditandai dengan penggumpalan darah ( aglutinasi) yang dapat membahayakan
jiwa resipien. Jadi donor perlu memerhatikan jenis aglutinogen di dalam

eritrosit, sedangkan resipien perlu memerhatikan
jenis aglutinin dalam plasma darah.

Aglutinin 􀁄 akan menggumpalkan darah yang
mengandung aglutinogen A, dan aglutinin 􀁅 akan
menggumpalkan darah yang mengandung aglutinogen
B. Bila seseorang yang bergolongan darah
A mentransfusikan darahnya kepada seseorang
yang bergolongan darah B maka akan terjadi penggumpalan.
Hal ini disebabkan karena resipien yang
bergolongan darah B memiliki aglutinin 􀁄. Aglutinin
􀁄 merupakan zat anti A (anti aglutinogen A).
Padahal aglutinogen A dimiliki oleh donor yang
bergolongan darah A, sehingga aglutinin 􀁄 resipien
akan menggumpalkan aglutinogen A donor. Jadi,
jika aglutinogen dan aglutinin yang sesuai bercampur
maka terjadi reaksi aglutinasi.
Golongan Darah O merupakan donor universal,
karena golongan darah O dapat memberikan
darahnya pada semua jenis golongan darah yang
lain. Sedangkan golongan darah AB merupakan
resipien universal karena golongan darah AB dapat
menerima darah dari semua jenis golongan darah
yang lain.
Transfusi darah yang terbaik adalah tranfusi dari golongan darah yang
sejenis. Jika transfusi dilakukan dengan jenis golongan darah yang berbeda,
meskipun itu memungkinkan, misalnya golongan darah O ditransfusikan
ke golongan darah A, B, atau AB masih mungkin terjadi penggumpalan
meskipun sedikit.
Alasan terbanyak dilakukan transfusi darah adalah karena penurunan
volume darah. Transfusi juga sering digunakan untuk mengobati anemia
atau untuk memberi resipien beberapa unsur lain dari darah misalnya orang
yang menderita demam berdarah membutuhkan trombosit karena turunnya
jumlah trombosit.

Sistem golongan darah yang lain adalah sistem rhesus yang dikemukakan
oleh Landsteiner. Nama rhesus diambil dari sejenis kera Macacca rhesus di
India. Prinsipnya adalah terdapatnya antibodi terhadap antigen D (anti-
D). Antigen D bersifat sangat antigenik dibandingkan dengan antigen Rh
lainnya. Oleh karena itu, orang yang mempunyai antigen ini dikatakan Rh
positif, sebaliknya orang yang tidak memiliki antigen D dikatakan Rh negatif
(diturunkan secara genetis, Rh+ dominan terhadap Rh-).
Eritroblastosis fetalis adalah kelainan pada
bayi di mana telah terjadi ketidaksesuaian faktor
rhesus (bayi Rh+ dan ibu Rh–). Gejala penyakit
ini ditemukan oleh Levine. Pertolongan pada bayi
tersebut adalah dengan cara transfusi eksanguinasi
(exchange transfussion).
Sekitar 99% penduduk Benua Asia memiliki
faktor Rh positif, sedangkan 85% dari seluruh
bangsa berkulit putih memiliki Rh negatif. Dengan demikian, sebaiknya
sepasang suami istri harus memiliki jenis faktor Rh yang sama, yaitu samasama
negatif atau sama-sama positif demi keselamatan keturunannya. Seorang
ibu dengan Rh negatif yang mengandung bayi Rh positif yang didapat dari
ayahnya, akan membentuk zat antibodi untuk melawan Rh si bayi jika darah
si bayi sempat bercampur dengan darah si ibu sewaktu mengandung. Jika
kemudian si ibu yang sama mengandung bayi kedua dengan Rh positif, maka
antibodi Rh positif si ibu akan membunuh sel-sel darah merah bayi yang
dikandungnya. Dengan demikian, sangat kecil kemungkinan bagi si ibu untuk
melahirkan bayi kedua itu dalam keadaan hidup. Hal ini dapat dicegah dengan
menyuntikkan antibodi Rh positif ke tubuh si ibu sesaat setelah melahirkan
anak pertama. Antibodi ini akan menghancurkan darah Rh positif si bayi yang
sempat masuk. Sekali sel-sel Rh positif ini dimusnahkan pembentukannya,
antibodi Rh positif oleh tubuh si ibu selanjutnya dapat dicegah. Akan tetapi,
jika sebelumnya tubuh si ibu telah sempat membentuk antibodi Rh positif,
akan lebih baik jika si ibu tidak hamil lagi. Tindak lanjut di samping sistem
ABO dan sistem Rh, penggolongan darah juga dapat dilakukan dengan sistem
MN.

2. Alat Peredaran Darah
Fungsi darah dalam metabolisme tubuh kita antara lain sebagai alat transportasi/
pengangkut/pengedar sari makanan, oksigen, karbon dioksida, sampah
dan air, termoregulasi (pengatur suhu tubuh), imunologi (mengan dung
antibodi tubuh), serta homeostasis (mengatur keseimbangan zat, pH regulator).
Darah didukung berbagai alat yang disebut alat peredaran darah untuk
melakukan tugas-tugasnya.

a. Jantung
Jantung terletak di rongga dada sebelah kiri dan terdiri atas tiga lapisan,
yaitu perikardium (lapisan luar), miokardium (lapisan tengah/otot jantung),
dan endokardium (lapisan dalam). Jantung berfungsi sebagai alat pemompa
darah. Oleh karena itu, jantung mempunyai otot yang kuat. Jantung juga
merupakan pusat peredaran darah pada tubuh kita, karena dari jantunglah
darah dialirkan ke seluruh bagian tubuh.

Ruang jantung manusia terdiri atas empat ruang, yaitu: serambi kiri
(atrium sinister), serambi kanan ( atrium dekster), bilik kiri ( ventrikel sinister),
dan bilik kanan (ventrikel dekster). Jantung manusia pada saat masih janin
mempunyai lubang yang disebut foramen oval. Lubang ini terletak di antara
serambi kiri dan serambi kanan.
Antara serambi kiri dengan bilik kiri terdapat katup dua daun ( valvula
bicuspidalis), yang berfungsi agar darah dari bilik kiri tidak mengalir kembali
ke serambi kiri. Antara serambi kanan dengan bilik kanan dihubungkan
katup tiga daun ( valvula tricuspidalis). Fungsi katup adalah menjaga agar darah
dari bilik kanan tidak mengalir kembali ke serambi kanan. Jantung mendapat
makanan (oksigenasi) melalui pembuluh arteri koronaria.
Dinding jantung bagian bilik memiliki otot yang lebih tebal dibandingkan
dengan dinding jantung bagian serambi. Hal ini disebabkan kerja bilik jantung
lebih berat, yaitu memompa darah ke seluruh tubuh.
Jantung bekerja sangat teratur, yaitu dengan mengembang dan mengempis.
Hal ini terjadi karena ada otot-otot jantung yang mengendur ( relaksasi) dan
berkerut ( kontraksi).
Cara kerja jantung adalah sebagi berikut:
1) Darah dari paru-paru yang banyak mengandung oksigen masuk ke dalam
serambi kiri. Dari serambi kiri darah diteruskan ke bilik kiri. Selanjutnya
darah di bilik kiri dipompa keluar dari jantung menuju ke seluruh tubuh,
membawa oksigen.

2) Setelah oksigen digunakan untuk proses
pembakaran di dalam sel-sel tubuh, darah
kembali ke jantung dengan membawa karbon
dioksida dan air.
3) Darah dari seluruh tubuh masuk ke serambi
kanan. Dari serambi kanan darah masuk ke
bilik kanan. Selanjutnya dari bilik kanan,
darah dipompa keluar dari jantung menuju ke
paru-paru untuk melepas karbon dioksida dan mengambil oksigen.

Gerakan jantung disebut denyut jantung. Denyut jantung terjadi jika otot
jantung berkontraksi. Denyut jantung dapat kita rasakan pada pembuluh nadi
(arteri) di dekat permukaan kulit, seperti di pergelangan tangan dan leher.
Denyut jantung secara normal berkisar tujuh puluh kali per menit. Denyut
jantung pada setiap orang berbeda-beda tergantung pada kondisi setiap
orang. Usia, berat badan, jenis kelamin, kesehatan, dan kegiatan berpengaruh
terhadap denyut jantung seseorang. Bayi memiliki denyut jantung yang lebih
cepat dibanding orang dewasa dalam keadaan normal.
Tekanan darah biasanya menunjukkan tekanan dalam arteri utama.
Tekanan darah pada saat jantung mengembang dan darah mengalir ke
dalam jantung disebut diastol. Sebaliknya, tekanan darah saat otot jantung
berkontraksi, sehingga jantung mengempis dan darah dipompa keluar dari
jantung disebut sistol. Tekanan darah dapat diukur dengan menggunakan
tensimeter atau spignomonometer. Tekanan darah pada orang normal antara
120 mm Hg pada sistol dan 80 mm Hg pada diastol (120/80 mm Hg). Dengan
mengetahui tekanan darah seseorang, kita mengetahui kekuatan jantung
ketika memompa darah.

b. Pembuluh darah
Pembuluh darah adalah suatu saluran yang berfungsi untuk mengalirkan
darah dari jantung ke seluruh tubuh dan dari seluruh tubuh kembali ke
jantung. Berdasarkan fungsinya, pembuluh darah terdiri atas: pembuluh nadi
(arteri), pembuluh balik (vena), dan pembuluh kapiler.
1) Pembuluh nadi (arteri)
Pembuluh nadi (arteri) adalah pembuluh yang membawa darah keluar
dari jantung ke jaringan. Dinding pembuluh nadi tebal, kuat dan elastis.
Lapisan paling dalam dari arteri adalah endotelium yang dikelilingi oleh otot
polos. Letaknya agak dalam, tersembunyi dari permukaan tubuh. Denyutnya
terasa, misalnya di pergelangan tangan atau di leher, dan mempunyai satu
katup dekat jantung. Katup berfungsi menjaga agar darah tidak mengalir
kembali ke jantung.
Darah yang keluar dari jantung melalui dua pembuluh nadi. Pembuluh
nadi pertama, keluar dari bilik kiri ( ventrikel kiri). Pembuluh nadi ini membawa
darah yang kaya oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Pembuluh darah
ini disebut nadi besar ( aorta). Pembuluh nadi kedua, keluar dari bilik kanan
(ventrikel kanan). Pembuluh nadi ini membawa darah dari seluruh tubuh
yang kaya karbon dioksida menuju ke paru-paru. Pembuluh darah ini disebut
pembuluh nadi paru-paru.
2) Pembuluh balik ( vena)
Pembuluh balik (vena) adalah pembuluh darah yang membawa darah
dari kapiler menuju jantung. Letaknya dekat permukaan kulit dan tampak
kebiru-biruan. Dinding pembuluhnya tipis dan tidak elastis. Lapisan dalamnya
bersifat licin karena dilapisi endotelium yang dikelilingi oleh otot polos.
Denyut pembuluh balik tidak terasa.
Pembuluh balik mempunyai katup di sepanjang pembuluhnya. Katup ini
berfungsi agar aliran darah berlangsung satu arah, yaitu ke jantung. Selain itu,
katup ini juga menjaga agar darah tetap mengalir karena tidak ada pompa
pada aliran darah di pembuluh darah balik.
Pada manusia, pembuluh balik dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu:
a) Pembuluh balik paru-paru
Pembuluh balik paru-paru ( vena pulmonalis) adalah pembuluh balik yang
membawa darah dari paru-paru ke serambi kiri (atrium kiri) jantung.
Pembuluh balik paru-paru membawa darah yang kaya oksigen.
b) Pembuluh balik tubuh
Pembuluh balik tubuh berukuran besar, terdiri atas pembuluh balik
atas (vena kava superior) dan pembuluh balik bawah ( vena kava inferior).
Pembuluh balik atas membawa darah dari tubuh bagian atas, misalnya
kepala dan lengan. Pembuluh balik bawah membawa darah dari tubuh
bagian bawah. Kedua pembuluh balik tersebut bermuara ke serambi
kanan (atrium kanan) jantung dan membawa darah yang kaya karbon

dioksida. Karbon dioksida merupakan sisa pembakaran yang terjadi pada
seluruh jaringan tubuh.

3) Pembuluh kapiler

Pembuluh kapiler merupakan pembuluh darah
yang sangat halus dan langsung berhubungan
dengan sel-sel jaringan tubuh. Pembuluh kapiler
menghubungkan ujung pembuluh nadi yang terkecil
dan ujung pembuluh balik yang terkecil. Pembuluh
kapiler sangat halus dan tipis karena hanya
terdiri dari satu lapis sel. Lebar pembuluh kapiler
ini hanya selebar 1 sel darah merah sehingga sel
darah merah beriringan dalam pembuluh kapiler. Di dalam pembuluh kapiler
inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Selama jantung masih bekerja, darah kita akan selalu beredar di sepanjang
tubuh. Peredaran darah tersebut merupakan peredaran darah tertutup, karena
darah manusia selalu berada dalam pembuluh, tidak pernah langsung masuk
ke dalam jaringan tubuh.
C. Sistem Peredaran Darah Manusia
Peredaran darah pada manusia disebut peredaran darah ganda atau
peredaran darah rangkap, karena setiap satu kali beredar ke seluruh tubuh
darah melewati jantung sebanyak dua kali. Peredaran darah rangkap atau
peredaran darah ganda terdiri atas peredaran darah besar dan peredaran
darah kecil.
1. Peredaran Darah Besar (Peredaran Darah Sistemik)
Peredaran darah besar adalah peredaran darah dari jantung ke seluruh
tubuh, kecuali paru-paru. Peredaran darah besar dimulai dari bilik kiri jantung
menuju ke tubuh bagian atas dan bagian bawah dengan membawa oksigen ke

seluruh sel-sel tubuh. Selanjutnya, darah masuk kembali ke jantung melalui
serambi kanan dengan membawa karbon dioksida.
Pada sistem peredaran darah besar, ada suatu sistem peredaran darah yang
disebut sistem porta hepatica. Dalam sistem porta ini, sebelum darah kembali
ke jantung darah terlebih dahulu masuk ke dalam hati untuk dibersihkan
dari racun-racun yang diserap oleh usus halus. Selanjutnya, darah kembali ke
jantung melalui pembuluh balik (vena).
2. Peredaran Darah Kecil (Peredaran Darah Pulmonalis)
Peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari jantung ke paru-paru
dan kembali ke jantung. Peredaran darah kecil dimulai dari bilik kanan jantung,
mengangkut karbon dioksida menuju ke paru-paru kanan dan paru-paru kiri.
Itulah sebabnya darah yang berasal dari paru-paru kanan dan kiri kaya akan
oksigen. Selanjutnya darah kembali ke jantung melalui serambi kiri.

D. Sistem Limfatik atau Peredaran Getah Bening
Sistem limfatik atau peredaran getah bening merupakan suatu cara di
mana cairan dapat mengalir dari jaringan ke dalam darah. Sistem limfatik
dapat mengangkut protein dan zat-zat berpartikel besar keluar dari jaringan
yang tidak dapat diabsorpsi langsung ke dalam kapiler darah. Peredaran
getah bening merupakan peredaran terbuka, karena selama peredarannya
getah bening tidak selalu berada di dalam pembuluh.
1. Cairan limfa (Getah Bening)
Sel tubuh selalu dikelilingi cairan yang menjaga kelembapan sel, mensuplai
makanan, dan mengumpulkan sisa metabolisme. Cairan ini berasal dari
plasma darah yang keluar dari pembuluh darah ke jaringan tubuh. Cairan
ini kemudian masuk ke cabang-cabang halus pembuluh limfa yang terbuka
ujungnya.
Cairan tubuh yang masuk ke dalam pembuluh kapiler limfa disebut cairan
limfa atau getah bening. Cairan ini berwarna kekuningan dan mengandung
leukosit yang berfungsi untuk membunuh kuman-kuman penyakit yang
masuk ke dalam tubuh.
2. Pembuluh Limfa dan Kelenjar Limfa
Pembuluh limfa terletak di sela-sela otot. Pembuluh ini bermula dari
pembuluh besar kemudian bercabang-cabang menjadi cabang yang halus.
Cabang-cabang yang halus bagian ujungnya terbuka. Melalui ujung pembuluh
yang terbuka ini, cairan jaringan tubuh masuk ke dalam pembuluh limfa.
Pembuluh limfa dibedakan atas pembuluh limfa kanan dan pembuluh limfa
dada.
a. Pembuluh limfa kanan (ductus limfaticus dexter)
Pembuluh limfa kanan merupakan kumpulan pembuluh limfa yang
berasal dari kepala, leher, dada, jantung, paru-paru, dan lengan bagian kanan.
Pembuluh ini bermuara di pembuluh balik di bawah tulang selangka kanan.
b. Pembuluh limfa dada (ductus toraxicus)
Pembuluh limfa dada merupakan pembuluh limfa yang berasal dari
bagian kiri tubuh, saluran pencernaan, dan sisi kanan bagian bawah tubuh.
Pembuluh ini bermuara di pembuluh balik di bawah tulang selangka kiri.
Di sepanjang pembuluh limfa terdapat beberapa kelenjar limfa, terutama
pada pangkal paha, ketiak, dan leher. Kelenjar limfa menghasilkan sel darah
putih dan berfungsi untuk mencegah infeksi lebih lanjut. Pada saat memerangi
infeksi, kelenjar limfa sering membengkak.
Peredaran limfa dimulai ketika cairan jaringan tubuh masuk ke ujung
pembuluh limfa yang terbuka dan berakhir pada pembuluh balik (vena)
di bawah tulang selangka (dekat leher). Oleh karena itu, peredaran limfa
disebut peredaran terbuka. Pembuluh limfa hanya berupa vena, dan tidak
ada arterinya. Peredaran limfa hanya satu arah, yaitu dari jaringan tubuh ke

vena di sekitar leher. Dalam peredaran limfa, aliran cairan limfa hanya ke satu
arah karena di sepanjang pembuluh limfa terdapat katup-katup.
3. Organ-Organ Limfa
a. Limpa
Limpa terletak di dalam rongga perut di belakang lambung. Limpa
berfungsi antara lain sebagai:
1) tempat pembentukan sel darah putih (leukosit) dan antibodi,
2) tempat membunuh kuman penyakit,
3) tempat pembongkaran sel darah merah yang sudah mati, dan
4) tempat cadangan sel darah. Jika ada bagian tubuh yang kekurangan darah,
limfa akan mengeluarkan cadangannya.
b. Tonsil
Tonsil terletak di bagian belakang rongga mulut sebelah kanan dan kiri
serta di rongga hidung bagian belakang. Tonsil di rongga mulut disebut
amandel sedangkan di rongga hidung disebut polip. Tonsil berfungsi sebagai
pertahanan tubuh dari kuman yang masuk ke dalam mulut dan hidung. Bila
terjadi infeksi, amandel, dan polip meradang dan membengkak. Pembengkakan
tonsil dapat mengganggu pernapasan sehingga harus dibuang dengan jalan
operasi.
c. Timus
Timus merupakan kelenjar yang sebagian besar terdiri atas jaringan
limfa. Timus tersusun atas sel-sel epitel yang menyerupai limfosit. Timus
memproduksi hormon yang berfungsi untuk merangsang produksi limfosit
dalam organ-organ limfa.

E. Sistem Kekebalan Tubuh
Kuman penyakit seperti bakteri dan virus selalu berusaha memasuki
tubuh manusia. Jika berhasil, mereka akan menginfeksi tubuh kita dan
menyebabkan penyakit. Untungnya, tubuh manusia mempunyai kemampuan
pertahanan untuk melawan berbagai macam kuman penyakit yang disebut
dengan kekebalan/imunitas. Bila ada kuman atau bakteri yang masuk, sel
darah putih akan memburu dan menghancurkannya.
Pada dasarnya di dalam tubuh dapat dijumpai dua macam kekebalan
yang berhubungan erat satu sama lainnya, yaitu:
1. Antibodi, merupakan molekul globulin yang mampu menyerang agen
penyakit.
2. Pembentukan sel limfosit dalam jumlah besar yang secara khusus
dirancang untuk menghancurkan benda asing. Kekebalan ini disebut
kekebalan seluler.
Tiap antibodi bersifat spesi􀅿 k terhadap antigen dan reaksinya bermacammacam.
Antibodi yang dapat menggumpalkan antigen disebut presipitin,
antibodi yang dapat menguraikan antigen disebut lisin, dan antibodi yang
dapat menawarkan racun disebut antitoksin. Antibodi bekerja melalui dua cara
yang berbeda untuk mempertahankan tubuh terhadap penyebab penyakit,
yaitu:
1. dengan menyerang langsung penyebab penyakit tersebut
2. dengan mengaktifkan sistem komplemen yang kemudian akan merusak
penyebab penyakit tersebut. Antibodi dapat melemahkan penyebab
penyakit dengan salah satu cara berikut:
a. Aglutinasi, terbentuknya gumpalan-gumpalan yang terdiri atas
struktur besar berupa antigen pada permukaannya.
b. Presipitasi, terbentuknya molekul yang besar antara antigen yang
larut, misalnya racun tetanus dengan antibodi sehingga berubah
menjadi tidak larut dan akan mengendap.
c. Netralisasi, antibodi yang bersifat antigenik akan menutupi tempattempat
yang toksik dari agen penyebab penyakit.
d. Lisis, beberapa antibodi yang bersifat antigenik yang sangat kuat
kadang-kadang mampu langsung menyerang membran sel agen
penyebab penyakit sehingga menyebabkan sel tersebut rusak.
Kekebalan pada tubuh manusia terdiri atas kekebalan bawaan dan
kekebalan buatan.
1. Kekebalan Bawaan
Kekebalan bawaan adalah kekebalan yang disebabkan oleh proses umum
dan bukan disebabkan proses melawan organisme penyebab penyakit yang
spesi􀅿 k. Kekebalan bawaan meliputi beberapa mekanisme antara lain:
a. Fagositosis yang dilakukan oleh leukosit dan sel pada sistem makrofag
jaringan terhadap bakteri serta penyebab penyakit lainnya.

b. Perusakan oleh asam yang disekresikan oleh lambung dan enzim
pencernaan terhadap organisme yang masuk ke dalam lambung.
c. Daya tahan kulit terhadap serangan organisme penyebab penyakit.
d. Adanya senyawa-senyawa kimia tertentu di dalam darah yang akan
melekat pada organisme asing atau toksin dan akan menghancurkannya.
Senyawa-senyawa tersebut adalah lisozim. Lisozim merupakan suatu
polisakarida yang menyerang bakteri sehingga bakteri tersebut menjadi
larut, polipeptida dasar yang akan bereaksi dengan mengaktifkan
beberapa macam bakteri gram positif tertentu, dan kompleks komplemen
yang terdiri atas kurang lebih 20 protein yang dapat diaktifkan dengan
bermacam-macam cara untuk merusak bakteri.
2. Kekebalan buatan
Sebagian besar dari kekebalan disebabkan oleh suatu sistem imun khusus.
Sistem imun tersebut membentuk antibodi atau limfosit yang diaktifkan dan
akan menghancurkan organisme atau toksin tertentu. Kekebalan semacam
ini disebut kekebalan buatan. Kekebalan buatan dapat dilakukan dengan
pemberian imunisasi atau vaksin.
Imunisasi diartikan pengebalan (terhadap penyakit). Kalau dalam istilah
kesehatan imunisasi diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya
penyakit tertentu. Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan
maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun).
Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah
suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi.
Antibodi ini berfungsi melindungi tubuh terhadap penyakit. Vaksin tidak
hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi
penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin secara
umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh
lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya
vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, sekarang ini
sudah jarang ditemukan.
Kekebalan buatan sering dapat memberikan perlindungan yang hebat.
Contohnya, kekebalan buatan dapat melindungi tubuh dari efek toksin tetanus
sampai 100.000 kali dari dosis. Toksin tetanus dapat menimbulkan kematian
bila tidak ada kekebalan.
Adapun jenis-jenis imunisasi adalah sebagai berikut:
a. Imunisasi BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis
(TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin ini
mengandung bakteri Bacillus calmette-guerrin hidup yang dilemahkan,
sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.
b. Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin three in one yang melindungi tubuh
terhadap difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri

yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang
serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran
udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernapasan
yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu
dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat
bernapas, serta makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan
komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang, dan kerusakan otak. Tetanus
adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang
serta kejang.
c. Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan
oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk
keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu
menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi
difteri dan tetanus.
d. Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan
untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.
e. Imunisasi campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak
(tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak
berumur 9 bulan atau lebih.
f. Imunisasi MMR
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan,
dan campak Jerman. Imunisasi ini disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak
menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler, dan mata berair.
Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga
bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan
otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit
kepala, dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur
utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis
(infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak.
Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar
sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (Rubella) menyebabkan
demam ringan, ruam kulit, dan pembengkakan kelenjar getah bening
leher. Rubella juga bisa menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan
perdarahan.
g. Imunisasi Hib
Imunisasi Hib membantu dalam mencegah infeksi oleh Haemophilus
in􀆀 uenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia,
dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.

h. Imunisasi varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air
ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara
perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.
i. Imunisasi HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis
B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan
kematian.
j. Imunisasi pneumokokus konjugata
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis
bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat
menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia
(infeksi darah).

Gangguan pada Sistem Peredaran Darah dan
Kekebalan Tubuh

1. Gangguan pada Sistem Peredaran Darah
Kelainan dan penyakit pada sistem peredaran darah sering kita jumpai
pada seseorang. Kelainan dan penyakit tersebut dapat disebabkan oleh faktor
keturunan (genetik), adanya kerusakan pada sistem peredaran darah, dan
faktor-faktor lain yang belum diketahui. Kelainan dan penyakit tersebut
antara lain:
a. Anemia
Anemia sering disebut sebagai penyakit kurang darah. Kurang darah
terjadi karena kandungan hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah rendah
atau berkurangnya sel darah merah. Berkurangnya kandungan Hb dapat
disebabkan makanan yang kurang mengandung zat besi. Berkurangnya
sel darah merah sering terjadi pada penderita penyakit malaria. Hal ini
karena plasmodium sebagai penyebab penyakit malaria memakan sel darah
merah. Demikian pula penderita penyakit cacing tambang sering mengalami
anemia.
b. Talasemia
Talasemia merupakan penyakit yang diturunkan. Talasemia sering terdapat
pada bayi dan anak-anak. Pada penderita talasemia, daya ikat sel darah
merahnya terhadap oksigen rendah karena kegagalan pembentukan hemoglobin.
Penderita talasemia berat membutuhkan transfusi darah setiap bulan.
c. Hemo􀅿 li
Hemo􀅿 li merupakan penyakit yang menyebabkan darah sukar membeku
bila terjadi luka. Kelainan ini disebabkan oleh faktor keturunan ( genetik). Kelainan
tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah. Penderita harus menghindari
terjadinya pendarahan agar darah tidak mengalir terus.

d. Leukemia
Leukemia atau kanker darah adalah penyakit bertambahnya sel darah
putih yang tidak terkendali.
Beberapa gejala leukemia yaitu:
1) Demam, kedinginan, dan gejala seperti 􀆀 u.
2) Badan lemah dan sakit kepala.
3) Sering mengalami infeksi.
4) Kehilangan berat badan.
5) Berkeringat, terutama malam hari.
6) Nyeri tulang atau sendi.
Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab leukemia. Namun,
para peneliti menduga penyebab leukemia antara lain radiasi energi tinggi,
misalnya bom nuklir, bahan kimia benzena yang mengenai seseorang dalam
jangka waktu lama, dan keadaan genetik seseorang, misalnya penderita
sindrom Down lebih banyak menderita leukemia dibanding orang normal.
e. Hipertensi
Hipertensi disebabkan oleh tekanan darah yang tinggi di dalam arteri.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi bila nilai ambang tekanan sistolik
antara 140 – 200 mmHg atau lebih dan nilai ambang tekanan ambang diastolik
antara 90 – 110 mmHg atau lebih.
Beberapa penderita tidak menunjukkan gejala-gejala akibat tekanan darah
tinggi. Namun, beberapa orang ada yang mengalami gejala-gejala, yaitu sakit
kepala, napas pendek, dan penglihatan kabur. Penyebab hipertensi berkaitan
dengan umur, kegemukan, dan keturunan.
f. Koronariasis

Koronariasis merupakan penyempitan atau penyumbatan
nadi tajuk (arteri koronari) pada jantung.
Melalui nadi tajuk tersebut, jantung mendapat
makan dan oksigen. Nadi tajuk berukuran kecil
sehingga bila tersumbat, denyut jantung dapat
terganggu atau terhenti. Penderita yang terkena
koronariasis akan merasakan sakit di bagian dada
(jantung).
Koronariasis disebabkan oleh terbentuknya
gumpalan darah pada dinding dalam arteri koronaria.
Gumpalan ini disebabkan oleh menumpuknya
kolesterol di dalam dinding arteri.
g. Varises
Varises merupakan pelebaran pembuluh balik (vena). Varises biasanya
terjadi di kaki terutama di bagian betis. Varises yang terdapat di bagian anus
disebut ambeien. Varises merupakan hal yang biasa terjadi dan tidak berbahaya.

Penyebab varises tidak diketahui secara keseluruhan. Dalam beberapa
kasus, varises dapat disebabkan oleh pembengkakan pada vena. Varises tidak
perlu diobati. Namun jika terjadi varises atau ambeien yang parah, dapat
dilakukan operasi.
h. Hemoroid/Wasir/Ambien
Hemoroid merupakan pelebaran pembuluh darah balik pada daerah anus.
Wasir dapat disebabkan terlalu banyak duduk, kurang gerak, dan terlalu kuat
mengejan, akibatnya aliran darah tidak lancar.
2. Gangguan dan Kelainan Sistem Kekebalan Tubuh
Penyakit dan Kelainan Sistem Imunitas.
a. Alergi
Alergi adalah respon yang hipersensitif terhadap antigen tertentu yang
berasal dari lingkungan. Antigen yang memicu terjadinya reaksi alergi disebut
dengan alergen. Alergi dapat disebabkan karena terkena jenis tumbuhan
tertentu yang menyebabkan gatal. Reaksi alergi juga dapat timbul dalam diri
seseorang setelah memakan jenis makanan tertentu, misalnya udang, tiram,
umbi, atau buah-buahan tertentu.
Terdapat dua macam kategori utama reaksi alergi, yaitu reaksi alergi cepat
dan reaksi alergi yang tertunda. Reaksi alergi cepat, misalnya karena tersengat
lebah, menghirup tepung sari, atau binatang kesayangan. Reaksi alergi
cepat ini disebabkan oleh mekanisme kekebalan humoral, yaitu diproduksinya
imunoglobulin E (IgE). Reaksi alergi yang kedua adalah reaksi alergi
lambat atau hipersensitif tipe tertunda DTH (Delayed Type Hypersensitivity).
Contoh DTH ekstrim terjadi ketika makrofag tidak bisa dengan mudah menghancurkan
substansi benda asing akibatnya sel T diaktifkan dan mendorong
peradangan jaringan tubuh.
b. Penolakan Transplantasi (Pencangkokan)
Di dalam dunia kedokteran kadang-kadang dilakukan tindakan penyelamatan
pasien dengan melakukan pencangkokan (transplantasi organ) untuk
menggantikan suatu organ yang sudah mengalami disfungsi. Tetapi tindakan
ini tidak mudah sebab bisa menimbulkan reaksi penolakan dari tubuh resipien
terhadap organ donor yang diberikan kepadanya. Hal ini terjadi karena setiap
individu mempunyai histon kompatibilitas mayor (MHC = major histon compatibility)
yaitu sidik jari protein yang unik yang bertanggung jawab terhadap
stimulasi penolakan pencangkokan jaringan dan organ.
c. Penurunan Kekebalan
Penyakit menurunnya kekebalan tubuh disebut dengan penyakit AIDS
(Acquired Immunode􀅿 ciency Syndrome). Penyakit ini disebabkan oleh virus
HIV (Human Immunode􀅿 ciency Virus). Virus ini merupakan virus yang
paling berbahaya. Tidak seperti virus lainnya, mikroorganisme ini benar-benar
menonaktifkan sistem pertahanan. Virus HIV menimbulkan kerusakan yang
tak dapat diperbaiki pada tubuh manusia dengan menyebabkan runtuhnya

sistem pertahanan. Keadaan ini membuat manusia sangat mudah diserang
oleh segala jenis penyakit, yang akhirnya menyebabkan berbagai kondisi
fatal.
Penyakit AIDS pernah diklaim sebagai penyakit sosial, karena awalnya
diketahui penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual pada pasangan
yang tidak resmi baik homoseksual maupun heteroseksual. Sebenarnya
penularan virus HIV dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu:
1) hubungan seksual dengan penderita baik homoseksual maupun
heteroseksual,
2) transfusi darah dari donor penderita,
3) penggunaan jarum suntik bekas dari penderita,
4) penularan dari ibu hamil kepada anaknya.
d. Penyakit Autoimunitas
Penyakit autoimunitas merupakan penyakit yang menyebabkan gagalnya
antibodi membedakan antigen asing dengan antigen dari dalam tubuh sendiri.
Akibatnya, bisa menyebabkan terjadinya perusakan zat-zat yang dianggap
sebagai antigen yang berada dalam tubuhnya sendiri. Penyakit autoimunitas
terjadi karena sistem kekebalan kehilangan toleransinya terhadap diri sendiri
dan melancarkan perlawanan terhadap molekul-molekul tertentu di dalam
tubuh.
Beberapa penyakit yang tergolong autoimunitas antara lain, sebagai
berikut:
1) Eritematosus lupus sistemik (lupus)
Penyakit ini menyebabkan sistem kekebalan membangkitkan antibodi
yang dikenal sebagai autoantibodi terhadap semua jenis molekul sendiri.
Bahkan protein histon dan DNA yang dibebaskan oleh perombakan sel
normal dalam tubuh juga dilawan. Ciri-ciri penyakit lupus antara lain:
terjadinya ruam kulit, demam, artritis, dan kegagalan fungsi ginjal.
2) Artritis reumatoid
Penyakit ini menyebabkan kerusakan dan peradangan yang sangat
menyakitkan pada tulang rawan dan tulang-tulang pada persendian.
e. Multiple sclerosis (MS)
Penyakit ini banyak dijumpai di negara-negara maju. Pada penderita
penyakit ini menyebabkan sel limfosit T bersifat reaktif terhadap mielin serta
memasuki sistem saraf pusat dan merusak selubung mielin dari neuron.
Akibatnya penderita akan mengalami gangguan abnormalitas neurologis
yang serius.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.