Posts Tagged ‘hipotonis’

Sel

A. Sel

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan
dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di
dalam sel. Untuk melakukan fungsinya sel telah dilengkapi dengan berbagai
organel.

B. Teori Sel

Penelitian menunjukkan bahwa satuan unit terkecil dari kehidupan
adalah Sel. Kata sel itu sendiri dikemukakan oleh Robert Hooke (1635 – 1703)
yang berarti kotak-kotak kosong, setelah ia mengamati sayatan gabus dengan
mikroskop.
Selanjutnya disimpulkan bahwa sel terdiri dari kesatuan zat yang
dinamakan protoplasma. Istilah protoplasma pertama kali dipakai oleh
Johannes Purkinje. Menurut Johannes Purkinje protoplasma dibagi menjadi
dua bagian yaitu sitoplasma dan nukleoplasma.
Schwann dan Schleiden (1838), menyatakan bahwa tumbuhan dan hewan
mempunyai persamaan, yaitu tubuhnya tersusun oleh sel-sel. Selanjutnya,
teori tersebut dikembangkan menjadi suatu teori sebagai berikut:
• Sel merupakan satuan struktural terkecil organisme hidup.
• Sel merupakan satuan fungsional terkecil organisme hidup.
• Sel berasal dari sel dan organisme tersusun oleh sel.

C. Struktur dan Fungsi Bagian-Bagian Sel
Sel merupakan unit terkecil kehidupan. Kehidupan dimulai di dalam sel.
Sel adalah suatu pabrik yang di dalamnya dapat disintesis ribuan molekul
yang sangat dibutuhkan oleh organisme. Ukuran sel bervariasi tergantung
fungsinya. Bentuk sel juga tergantung fungsinya. Garis tengah sel bervariasi
antara 1 – 100 􀁺m. Sel paling besar adalah sel telur angsa, sedangkan sel
terpanjang adalah sel otot dan sel saraf. Perhatikan kisaran ukuran sel pada
gambar 1.1. Berdasarkan jumlah sel penyusunnya, maka organisme dibedakan
menjadi organisme uniseluler (terdiri atas satu sel, misalnya bakteri, Archaea,
serta sejumlah fungi dan Protozoa) dan multiseluler (terdiri atas banyak
sel). Pada organisme multiseluler terjadi pembagian tugas terhadap sel-sel
penyusunnya.
Sel yang hidup mempunyai struktur yang sama, yaitu: membran sel/
membran plasma, inti sel ( nukleus), sitoplasma, dan organel sel.
ke

1. Membran Sel/Membran Plasma
Membran sel adalah selaput yang terletak paling luar dan tersusun dari
senyawa kimia lipoprotein (gabungan dari senyawa lemak atau lipid dengan
senyawa protein). Membran sel disebut juga membran plasma atau selaput
plasma.
Lemak bersifat hidrofobik karena tidak larut dalam air, sedangkan protein
bersifat hidro􀅿 lik karena larut dalam air. Oleh karena itu, selaput plasma
bersifat selektif permeabel (hanya dapat memasukkan/dilewati molekul
tertentu saja) atau semipermeabel. Membran sel membatasi segala kegiatan
yang terjadi di dalam sel sehingga tidak mudah terganggu oleh pengaruh dari
luar. Perhatikan gambar 1.2. Pada sel tumbuhan, membran sel dalam keadaan
normal melekat pada dinding sel akibat tekanan turgor dari dalam sel.
Fungsi dari membran sel ini adalah sebagai pintu gerbang yang dilalui
zat, baik menuju atau meninggalkan sel. Khusus pada sel tumbuhan, selain
mempunyai selaput plasma masih ada satu struktur lagi yang letaknya di luar
selaput plasma yang disebut dinding sel. Umumnya dinding sel tersusun dari
dua lapis senyawa selulosa, di antara kedua lapisan selulosa tadi terdapat
rongga yang dinamakan lamela tengah yang dapat terisi oleh zat-zat penguat
seperti lignin, kitin, pektin, suberin, dan lain-lain.
Selain itu, pada dinding sel tumbuhan kadang-kadang terdapat celah
yang disebut noktah. Pada noktah/ pit sering terdapat penjuluran sitoplasma
yang disebut plasmodesma yang berfungsi menghubungkan sel satu dengan
yang lain.

2. Inti Sel ( Nukleus)
Nukleus bertugas mengontrol kegiatan yang
terjadi di sitoplasma. Di dalam nukleus terdapat
kromosom yang berisi DNA yang merupakan
cetak biru bagi pembentukan berbagai protein
terutama enzim. Enzim diperlukan dalam
menjalankan berbagai fungsi di sitoplasma.
Inti sel terdiri dari bagian-bagian yaitu:
• Selaput inti (karioteka),
• Nukleoplasma (kariolimfa),
• Kromatin/kromosom,
• Nukleolus (anak inti).
Fungsi dari inti sel adalah mengatur semua
aktivitas (kegiatan) sel, karena di dalam inti sel terdapat kromosom yang
berisi DNA untuk mengatur sintesis protein.

3. Sitoplasma dan Organel Sel
Bagian yang cair dalam sel dinamakan sitoplasma, khusus untuk cairan
yang berada dalam inti sel dinamakan nukleoplasma. Fungsi utama kehidupan
berlangsung di sitoplasma. Hampir semua kegiatan metabolisme berlangsung di
dalam ruangan berisi cairan kental ini. Di dalam sitoplasma terdapat organelorganel
yang melayang-layang dalam cairan kental (merupakan koloid,
namun tidak homogen) yang disebut matriks. Organel menjalankan banyak
fungsi kehidupan seperti sintesis bahan, respirasi (perombakan), penyimpanan,
serta reaksi terhadap rangsang. Sebagian besar proses di dalam sitoplasma
diatur secara enzimatik.

a. Ribosom (ergastoplasma)
Struktur ini berbentuk bulat terdiri dari dua
partikel besar dan kecil, ada yang melekat sepanjang
retikulum endoplasma dan ada pula yang soliter
atau bebas. Ribosom merupakan organel sel
terkecil di dalam sel. Fungsi dari ribosom adalah
tempat sintesis protein. Struktur ini hanya dapat
dilihat dengan mikroskop elektron.

b. Retikulum endoplasma (RE)
Retikulum endoplasma yaitu struktur berbentuk benang-benang yang
bermuara di inti sel.
Dikenal dua jenis retikulum endoplasma, yaitu:
• Retikulum endoplasma granuler (retikulum endoplasma kasar). RE
kasar tampak kasar karena ribosom menonjol di permukaan sitoplasmik
membran.
• Retikulum endoplasma agranuler (retikulum endoplasma halus). RE
halus diberi nama demikian karena permukaan sitoplasmanya tidak
mempunyai ribosom.
Fungsi retikulum endoplasma adalah sebagai alat transportasi zat-zat
di dalam sel itu sendiri. Struktur retikulum endoplasma hanya dapat dilihat
dengan mikroskop elektron.

c. Mitokondria (the power house)
Struktur mitokondria berbentuk seperti cerutu ini, mempunyai dua
lapis membran. Lapisan dalamnya berlekuk-lekuk dan dinamakan krista.

Fungsi mitokondria adalah sebagai pusat respirasi seluler yang
menghasilkan banyak energi ATP. Respirasi merupakan proses perombakan
atau katabolisme untuk menghasilkan energi atau tenaga bagi berlangsungnya
proses hidup, karena itu mitokondria diberi julukan the power house (pembangkit
tenaga) bagi sel. Secara garis besar, tahap respirasi pada tumbuhan dan hewan
melewati jalur yang sama, yang dikenal sebagai daur atau siklus Krebs yang
berlangsung di dalam mitokondria.

d. Lisosom
Fungsi dari organel ini adalah sebagai penghasil dan penyimpan
enzim pencernaan seluler. Contohnya enzim lisozim, yang berfungsi untuk
menghancurkan struktur sel, misalnya dinding sel.
e. Badan golgi (aparatus golgi/diktiosom)
Badan golgi terdiri dari kantung membran yang pipih (sisterne) yang
tampak sebagai tumpukan pita. Kedua permukaan tumpukan membran pipih
(sisterne) disebut sebagai muka cis dan muka trans. Muka cis berfungsi sebagai penerima vesikula transpor dari RE, sedangkan muka trans berfungsi mengirim vesikula transpor. Vesikula transpor adalah bentuk transfer dari protein yang disintesis RE.

f. Sentrosom (sentriol)
Struktur sentrosom berbentuk bintang yang berfungsi dalam pembelahan
sel baik mitosis maupun meiosis. Sentrosom bertindak sebagai benda kutub
yang merupakan tempat melekatnya ujung benang gelendong pada kedua
kutub tersebut. Struktur ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop elektron.
g. Plastida
Plastida berperan dalam fotosintesis. Plastida adalah bagian dari sel yang
bisa ditemui pada alga dan tumbuhan (kingdom plantae). Plastida dapat
dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Dikenal tiga jenis plastida, yaitu:
1) Leukoplas
Plastida jenis ini berwarna putih berfungsi sebagai penyimpan makanan,
terdiri atas:
• Amiloplas, berfungsi untuk menyimpan amilum.
• Elaioplas (lipidoplas), berfungsi untuk menyimpan lemak/minyak.
• Proteoplas, berfungsi untuk menyimpan protein.
2) Kloroplas
Kloroplas adalah plastida berwarna hijau. Plastida ini berfungsi
menghasilkan klorofil sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis.

3) Kromoplas
Kromoplas merupakan plastida yang mengandung pigmen, misalnya:
• Karoten (kuning).
• Fikosianin (biru).
• Fikosantin (cokelat).
• Fikoeritrin (merah).
h. Vakuola (rongga sel)
Beberapa ahli tidak memasukkan vakuola sebagai organel sel karena
tidak menjalankan sebuah fungsi tertentu secara aktif. Benda ini dapat dilihat
dengan mikroskop cahaya biasa. Selaput pembatas antara vakuola dengan
sitoplasma disebut tonoplas. Vakuola berisi:
• garam-garam organik
• glikosida
• tanin (zat penyamak)
• minyak eteris (misalnya jasmine pada melati, roseine pada mawar,
zingiberine pada jahe)
• alkaloid (misalnya kafein, kinin, nikotin, likopersin, dan lain-lain)
• enzim
• butir-butir pati
Pada beberapa spesies dikenal adanya vakuola kontraktil dan vakuola
non kontraktil.
i. Mikrotubulus
Mikrotubulus berbentuk benang silindris dan kaku. Mikrotubulus
berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai rangka sel. Contoh
organel ini antara lain benang-benang gelendong pembelahan. Selain itu
mikrotubulus berguna dalam pembentukan sentriol, 􀆀 agela, dan silia.
j. Mikro􀅿 lamen
Mikro􀅿 lamen seperti mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari
komponen utamanya yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot).
Mikro􀅿 lamen berperan dalam pergerakan sel.
k. Peroksisom (badan mikro)
Peroksisom ukurannya sama seperti lisosom. Organel ini senantiasa
berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan
katalase (banyak disimpan dalam sel-sel hati).

D. Macam-Macam Sel

Bentuk dan ukuran sel bermacam-macam, tergantung pada tempat dan
fungsi dari jaringan yang disusunnya. Organel di dalam sel mempunyai fungsi
yang berbeda satu sama lainnya. Berdasarkan ada tidaknya dinding/ selaput
inti, maka sel dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Struktur Sel Prokariotik
Sel prokariotik tidak mempunyai membran inti dan sistem endomembran
seperti retikulum endoplasma dan kompleks golgi. Selain itu, tidak memiliki
mitokondria dan kloroplas. Sel prokariotik terdapat pada bakteri dan alga
biru, dengan ciri-ciri sebagai berikut

- Sitoplasma dan materi genetik bercampur,
sehingga materi inti tidak dibatasi oleh
membran inti melainkan hanya mengumpul
pada daerah yang disebut nukleoid.
– Bahan gen ( DNA) terdapat dalam sitoplasma
berbentuk cincin bulat.
– Tidak dijumpai badan golgi, mitokondria, dan retikulum endoplasma
(RE), tetapi dijumpai adanya ribosom.
– Tidak mempunyai organel lain selain ribosom.

2. Struktur Sel Eukariotik
Sel eukariotik memiliki membran nukleus dan sistem endomembran. Ciriciri
sel eukariotik adalah sebagai berikut:
– Sitoplasma dan nukleoplasma terpisah.
– Bahan gen di dalam inti.
– Mempunyai organel seperti golgi, mitokondria, retikulum endoplasma,
ribosom, dan kloroplas pada tumbuhan.
– Bahan gen ( DNA) seperti pita ganda dan tersusun spiral saling melilit
(double helix).

Ada dua macam sel eukariotik yang mempunyai materi penyusun relatif
berbeda, yaitu sel hewan dan sel tumbuhan. Struktur dasar sel tumbuhan dan
sel hewan adalah sama. Tetapi sel tumbuhan dan sel hewan memiliki sedikit
perbedaan yang dikarenakan perbedaan kebutuhan diantara keduanya.
Beberapa perbedaan antara lain pada tumbuhan terdapat dinding sel,
vakuola, dan plastida, sedangkan pada sel hewan tidak dijumpai. Pada sel
hewan terdapat sentriol dan lisosom.
a. Sel tumbuhan
1) Dinding sel
Dinding sel tipis dan berlapis-lapis. Lapisan dasar yang terbentuk pada
saat pembelahan sel terutama adalah pektin, zat yang membuat agar-agar
mengental. Lapisan inilah yang merekatkan sel-sel yang berdekatan.
Setelah pembelahan sel, setiap sel baru membentuk dinding dalam dari
serat selulosa. Dinding ini terentang selama sel tumbuh serta menjadi
tebal dan kaku setelah tumbuhan dewasa.
2) Vakuola
Vakuola atau rongga sel adalah suatu rongga atau kantung berisi cairan
yang dikelilingi oleh membran. Pada sel tumbuhan, khususnya pada
sel parenkim dan kolenkim dewasa memiliki vakuola tengah berukuran
besar yang dikelilingi oleh membran tonoplas.
Fungsi vakuola:
– Memasukkan air melalui tonoplas untuk membangun turgor sel.
– Adanya pigmen antosian memberikan kemungkinan warna cerah
yang menarik pada bunga, pucuk daun, dan buah.

– Kadangkala vakuola tumbuhan mengandung enzim hidrolitik yang
dapat bertindak sebagai lisosom waktu sel masih hidup.
– Menjadi tempat penimbunan sisa-sisa metabolisme.
– Tempat penyimpanan zat makanan.

3) Plastida
Plastida merupakan organel yang hanya ditemukan pada sel tumbuhan
berupa butir-butir yang mengandung pigmen atau zat warna. Plastida
dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
a) Leukoplas
Leukoplas adalah plastida yang berwarna putih atau tidak berwarna.
Umumnya leukoplas terdapat pada organ tumbuhan yang tidak
terkena sinar matahari dan berguna untuk menyimpan cadangan
makanan.
Berdasarkan fungsinya, leukoplas dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu:
– Amiloplas, yaitu leukoplas yang berfungsi membentuk dan
menyimpan amilum.
– Elaioplas, yaitu leukoplas yang berfungsi untuk membentuk dan
menyimpan lemak.
– Proteoplas, yaitu leukoplas yang berfungsi menyimpan protein.
b) Kloroplas
Kloroplas adalah benda terbesar dalam sitoplasma sel tumbuhan.

Kloroplas banyak terdapat pada daun dan organ tumbuhan lain
yang berwarna hijau. Kloroplas yang berkembang dalam sel daun
dan batang yang berwarna hijau mengandung pigmen yang berwarna
hijau atau kloro􀅿 l. Kloro􀅿 l berfungsi menyerap energi cahaya matahari
untuk melangsungkan proses fotosintesis dan mengubahnya menjadi
energi kimia dalam bentuk glukosa. Kloroplas memperbanyak diri
dengan memisahkan diri secara bebas dari pembelahan inti sel.
Kloro􀅿 l dibedakan menjadi bermacam-macam, antara lain:
– kloro􀅿 l a menampilkan warna hijau biru,
– kloro􀅿 l b menampilkan warna hijau kuning,
– kloro􀅿 l c menampilkan warna hijau cokelat,
– kloro􀅿 l d menampilkan warna hijau merah.
Kloroplas disusun oleh sistem membran yang membentuk kantungkantung
pipih yang disebut tilakoid. Tilakoid tersebut tersusun
bertumpuk yang membentuk struktur yang disebut grana (tunggal,
granum). Cairan di luar tilakoid disebut stroma. Dengan demikian
di dalam kloroplas terdapat dua ruangan yaitu ruang tilakoid dan
stroma.

c) Kromoplas
Kromoplas adalah plastida yang memberikan warna yang khas
bagi masing-masing tumbuhan. Perbedaan warna pada kromoplas
disebabkan oleh perbedaan pigmen yang dikandungnya. Pigmenpigmen
tersebut antara lain:
– karoten, menimbulkan warna merah kekuningan, misalnya pada
wortel
– xanto􀅿 l, menimbulkan warna kuning pada daun yang sudah tua
– 􀅿 kosianin, memberikan warna biru pada ganggang
– 􀅿 kosantin, memberikan warna cokelat pada ganggang
– 􀅿 koeritrin, memberikan warna merah pada ganggang

Berbeda dengan sel tumbuhan, sel hewan tidak mempunyai dinding
sel. Protoplasma hanya dilindungi oleh selaput yang tipis sehingga bentuk
selnya relatif tidak tetap. Ada beberapa sel hewan yang selnya dilindungi oleh
cangkang yang kuat dan keras, misalnya pada Euglena dan Radiolaria. Vakuola
pada hewan umumnya berukuran kecil

E. Transpor Molekul Melalui Membran

Sel-sel pada organisme multiseluler dikelilingi cairan yang disebut cairan ekstra sel (CES). CES memiliki komponen utama air. CES menyediakan molekul atau ion yang diperlukan suatu sel. CES juga menampung hasil atau limbah yang dihasilkan sel. Sel akan melakukan transpor molekul. Transpor molekul dilakukan sel melalui membran sel yang bersifat selektif permiabel. Artinya, membran sel dapat dilewati molekul tertentu sesuai yang dikehendakinya. Transpor molekul pada sel terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi cairan antara ruang di dalam sel dengan cairan ekstra sel. Inilah yang disebut dengan gradien konsentrasi.

Transpor molekul melalui membran dapat terjadi secara pasif (transpor
pasif) dan dapat pula terjadi secara aktif (transpor aktif). Transpor pasif
merupakan transpor yang tidak memerlukan energi, meliputi difusi, difusi
terfasilitasi, dan osmosis. Transpor aktif adalah transpor melalui membran
dengan melawan kecenderungan alami yaitu melawan gradien konsentrasi
dengan menggunakan energi ATP. Transpor melalui membran jenis lain
adalah endositosis dan eksositosis.
Prinsip-prinsip dasar transpor melalui membran adalah setiap molekul
memiliki kecenderungan untuk menempati ruang secara merata. Molekul
pada konsentrasi tinggi memiliki tekanan yang lebih besar dan setiap molekul
mempunyai kecenderungan untuk selalu bergerak karena mengandung energi
kinetik. Dengan demikian secara alami terdapat kecenderungan molekul pada
konsentrasi tinggi bergerak ke konsentrasi rendah.
1. Transpor Pasif
a. Difusi
Difusi dapat diartikan perpindahan zat (padat, cair, dan gas) dari
larutan konsentrasi tinggi (hipertonis) ke larutan dengan konsentrasi rendah
(hipotenis). Dengan kata lain setiap zat akan berdifusi menuruni gradien
konsentrasinya. Hasil dari difusi adalah konsentrasi yang sama antara larutan
tersebut dinamakan isotonis.
Kecepatan zat berdifusi melalui membran sel tidak hanya tergantung
pada gradien konsentrasi, tetapi juga pada besar, muatan, dan daya larut
dalam lemak (lipid). Membran sel kurang permeabel terhadap ion-ion (Na+,
Cl–, K+) dibandingkan dengan molekul kecil yang tidak bermuatan. Dalam
keadaan yang sama molekul kecil lebih cepat berdifusi melalui membran sel
daripada molekul besar.
Molekul-molekul yang bersifat hidrofobik dapat bergerak dengan mudah
melalui membran daripada molekul-molekul hidrofolik. Molekul-molekul
yang besar dan ion dapat bergerak melalui membran.
b. Difusi terfasilitasi
Difusi terfasilitasi melibatkan difusi dari molekul polar dan ion melewati
membran dengan bantuan protein transpor. Protein transpor merupakan protein khusus yang menyediakan suatu ikatan 􀅿 sik bagi molekul yang sedang bergerak. Protein transpor juga merentangkan membran sel sehingga menyediakan suatu mekanisme untuk pergerakan molekul. Difusi terfasilitasi juga merupakan transpor pasif karena hanya mempercepat proses difusi dan tidak merubah arah gradien konsentrasi.

c. Osmosis

Osmosis merupakan difusi air melalui selaput semipermeabel. Air akan bergerak dari daerah yang mempunyai konsentrasi larutan rendah ke daerah
yang mempunyai konsentrasi larutan tinggi. Tekanan osmosis dapat diukur dengan suatu alat yang disebut osmometer. Air akan bergerak dari daerah dengan tekanan osmosis rendah ke daerah dengan tekanan osmosis tinggi. Sel akan mengerut jika berada pada lingkungan yang mempunyai konsentrasi larutan lebih tinggi. Hal ini terjadi karena air akan keluar meninggalkan
sel secara osmosis. Sebaliknya jika sel berada pada lingkungan yang hipotonis (konsentrasi rendah) sel akan banyak menyerap air, karena air berosmosis dari lingkungan ke dalam sel. Jika sel-sel tersebut adalah sel tumbuhan, maka akan
terjadi tekanan turgor apabila dalam lingkungan hipotonis. Sebaliknya jika sel tumbuhan berada pada lingkungan hipertonis, dapat mengalami plasmolisis yaitu terlepasnya sel dari dinding sel.

2. Transpor Aktif
Pada transpor aktif diperlukan energi dari dalam sel untuk melawan
gradien konsentrasi. Transpor aktif sangat diperlukan untuk memelihara
keseimbangan molekul-molekul di dalam sel. Sumber energi untuk transpor
aktif adalah ATP (adenosin trifosfat).
Transpor aktif primer dan sekunder
Transpor aktif primer membutuhkan energi dalam bentuk ATP,
sedangkan transpor aktif sekunder memerlukan transpor yang tergantung
pada potensial membran. Kedua jenis transpor tersebut saling berhubungan
erat karena transpor aktif primer akan menciptakan potensial membran dan
ini memungkinkan terjadinya transpor aktif sekunder.
Transpor aktif primer dicontohkan pada keberadaan ion K+ dan Na+
dalam membran. Kebanyakan sel memelihara konsentrasi K+ lebih tinggi di
dalam sel daripada di luar sel. Sementara konsentrasi Na+ di dalam sel lebih
kecil daripada di luar sel.
Transpor aktif sekunder dicontohkan pada asam amino dan glukosa
dengan molekul pengangkutannya berupa protein transpor khusus.
Pengangkutan tersebut bersama dengan pengangkutan Na+ untuk berdifusi
ke dalam sel. Pengangkutan Na+ adalah transpor aktif primer yang
memungkinkan terjadinya pontensial membran, sehingga asam amino dan
glukosa dapat masuk ke dalam sel.

3. Endositosis dan Eksositosis
a. Eksositosis
Eksositosis dapat diartikan, keluarnya zat dari dalam sel. Vesikel dari
dalam sel berisi senyawa atau sisa metabolisme. Bersama aliran plasma,
vesikel tersebut akhirnya sampai pada membran dan terjadilah perlekatan.
Daerah perlekatan akan mengalami lisis dan isi vesikel keluar.
b. Endositosis
Endositosis merupakan proses pemasukan zat dari luar sel ke dalam sel.
Partikel-partikel dari luar sel menempel pada membran kemudian mendesak
membran sehingga terjadilah lekukan yang semakin lama semakin dalam
bentuknya seperti kantung dan akhirnya menjadi bulat lalu terlepas dari
membran. Bulatan tersebut berisi partikel, lalu akan dicerna oleh lisosom/
enzim pencerna yang lain. Endositosis memiliki dua macam bentuk yaitu
pinositosis dan fagositosis. Pinositosis merupakan proses pemasukan zat ke
dalam sel yang berupa cairan. Hal ini sesuai dengan arti pino sendiri yaitu
minum. Sedangkan fagositosis (fago = makan) merupakan pemasukan zat
padat atau sel lainnya ke dalam tubuh sel. Sesuai dengan artinya, peristiwa
ini seperti sel memakan zat lain. Perhatikan gambar 1.13.
1) Pinositosis
Bahan pada membran plasma reseptor akan menempel sehingga terjadi
lekukan. Lekukan lama-kelamaan semakin dalam dan membentuk kantung.
Kantung yang terlepas akan berada dalam sitoplasma. Kantung ini disebut
gelembung pinositosis. Gelembung pinositosis akan mengerut dan pecah
menjadi gelembung kecil-kecil kemudian bergabung menjadi gelembung
yang lebih besar.
2) Fagositosis
Fagositosis merupakan proses penelanan partikel-partikel makanan dan
sel-sel asing, misalnya pada Amoeba dan sel-sel darah putih. Makanan atau
partikel lain akan menempel pada membran, lalu membran akan membentuk
lekukan. Membran akan menutup dan membentuk kantung, lalu kantung
melepaskan diri.

�fillfil l da

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.