KELANGSUNGAN HIDUP MAKHLUK HIDUP


 

Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan dan bertahan

hidup yang berbeda-beda. Ada makhluk hidup yang jumlahnya terus

berkurang, karena lingkungan sekitar tidak melindunginya dari

hewan pemangsa. Selain itu, ada makhluk hidup yang mempunyai

keturunan dengan jumlah banyak, sedangkan makhluk hidup lainnya

mempunyai keturunan yang sedikit. Mengapa hal itu terjadi?

Setiap makhluk hidup selalu berusaha untuk mempertahankan

kelangsungan hidupnya. Suatu jenis makhluk hidup dapat hidup

lestari pada suatu lingkungan karena berbagai hal. Misalnya, jenis

makhluk hidup tersebut dapat menyesuaikan diri atau berdaptasi

terhadap lingkungannya, dapat lolos dari seleksi alam, dan dapat

berkembang biak.A. ADAPTASI MAKHLUK HIDUP

Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika makhluk hidup tidak

bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, makhluk hidup

tersebut dapat punah. Sebagai contoh, jika ayam dipindah ke air

lama-kelamaan akan mati karena tidak dapat menyesuaikan diri

dengan lingkungan berair. Jadi, adaptasi adalah kemampuan

makhluk untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Kemampuan adaptasi sangat berkaitan dengan kelangsungan

hidup. Makin besar kemampuan beradaptasi, makin besar kemungkinan

bertahan hidup. Dengan kemampuan adaptasi yang besar,

suatu jenis makhluk hidup dapat menempati habitat yang beragam.

Manusia merupakan contoh jenis makhluk hidup yang

mempunyai kemampuan yang besar dalam beradaptasi. Hampir

semua habitat dihuni oleh manusia. Dari pantai hingga pegunungan

yang tinggi, dari hutan tropis yang yang panas dan lembap sampai

gurun pasir yang kering dan panas, serta daerah kutub yang dingin.

Secara garis besar adaptasi makhluk hidup dibedakan

menjadi tiga, yaitu adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan

adaptasi perilaku.1. Adaptasi Morfologi

Adaptasi morfologi merupakan bentuk adaptasi pada

makhluk hidup yang paling mudah kita kenal. Sebab adaptasi

morfologi berkaitan dengan bentuk tubuh organ tubuh bagian luar.

Berbagai contoh adaptasi morfologi sebagai berikut.

a. Adaptasi morfologi pada paruh burung

Apa jenis makanan berbagai macam burung (unggas) yang

ada di sekitarmu? Kalau kita amati, ada burung yang memakan bijibijian,

ada yang memakan serangga, ada yang memakan daging, dan

ada yang mengisap madu. Untuk mengambil makanan dari

lingkungannya, burung memerlukan paruh yang sesuai dengan

makanannya.

Bentuk paruh burung nuri pendek dan kuat, sesuai dengan

makanannya yang berupa biji-bijian. Bentuk paruh burung elang

runcing agak panjang dan ujung paruh atas agak membengkok ke

bawah. Bentuk paruh seperti itu cocok untuk merobek daging.

Bentuk paruh burung pelikan panjang, lebar, dan agak berkantong.

Hal itu disesuaikan dengan jenis makanannya yang licin, misalnya

ikan. Bentuk paruh burung kolibri khas sekali sebagai pengisap

madu, yaitu kecil, runcing, dan panjang. Aneka ragam bentuk penuh

burung sesuai dengan jenis makanan itulah yang merupakan bentuk

adaptasi marfologi.b. Adaptasi morfologi pada kaki burung

Selain dapat dilihat dari bentuk paruhnya, adaptasi morfologi

pada burung juga dapat dilihat dari bentuk kakinya. Ada kaki burung

petengger, kaki burung pemanjat, kaki burung perenang, dan ada

pula kaki burung pencengkeram. Dapatkah kamu menyebutkan

bentuk kaki burung lainnya? Pada umumnya burung petengger

mempunyai jari kaki panjang dan semua jari terletak pada satu

bidang datar. Bentuk kaki seperti itu cocok untuk hinggap pada

ranting-ranting pohon yang kecil, contohnya burung kutilang. Kaki

burung pemanjat mempunyai dua jari ke depan dan dua jari ke

belakang, misalnya kaki burung pelatuk. Kaki burung perenang,

terdapat selaput renang di antara jari-jarinya. Burung yang biasa

berenang, misalnya angsa, itik, pinguin, dan pelikan. Kaki burung

pencengkram mempunyai ukuran yang pendek dan cakarnya sangat tajam. Jika sedang mencengkram mangsa, jari depannya dapat

diputar ke belakang. Burung yang mempunyai kaki seperti itu,

misalnya burung elang, rajawali, dan burung hantu.c. Adaptasi morfologi pada mulut serangga

Adaptasi morfologi pada serangga dapat kita lihat pada tipe

mulutnya. Bagian mulut serangga pada dasarnya terdiri atas satu

bibir atas (labrum), sepasang rahang (mandibula), satu hipofaring,

sepasang maksila, dan satu bibir bawah (labium). Pada belalang,

jangkrik, dan kecoa mulutnya dilengkapi dengan rahang atas dan

rahang bawah yang sangat kuat. Tipe mulut seperti pada serangga

tersebut dinamakan tipe mulut penggigit. Kutu dan nyamuk

mulutnya mempunyai rahang yang panjang dan runcing, sehingga

memungkinkan untuk menusuk kulit manusia atau hewan lain. Tipe

mulut seperti itu dinamakan tipe mulut penusuk-pengisap. Kupukupu

mulutnya dilengkapi dengan alat, seperti belalai yang panjang

dan dapat digulung. Tipe mulut seperti pada kupu-kupu tersebut

dinamakan tipe mulut pengisap. Lebah madu dan lalat mulutnya

dilengkapi dengan alat untuk menjilat atau bibir. Tipe mulut seperti

itu disebut tipe mulut pengisap-penjilat.2. Adaptasi Fisiologi

Berbeda dengan adaptasi morfologi yang tampak dari luar diri

makhluk hidup, adaptasi fisiologi tidak begitu tampak sehingga sulit

mengenalinya. Hal ini karena berkaitan dengan fungsi organ tubuh

bagian dalam Beberapa contoh adaptasi fisiologi pada makhluk

hidup sebagai berikut.

a. Adaptasi terhadap kadar oksigen

Oksigen merupakan zat yang sangat diperlukan makhluk

hidup untuk pernapasan. Oleh karena itu, perubahan kadar zat

tersebut di lingkungan akan sangat memengaruhi aktivitas organ

tubuh.

Di berbagai tempat dengan ketinggian yang berbeda, kadar

oksigennya akan berbeda. Kadar oksigen di dataran rendah cukup

tinggi. Makin tinggi suatu tempat, kadar oksigennya makin rendah.

Apa yang akan terjadi, jika seseorang berpindah dari dataran rendah

ke dataran tinggi atau sebaliknya? Ingatlah bahwa oksigen dari alat

pernapasan akan diangkut ke sel-sel tubuh oleh sel darah merah

(eritrosit). Di dataran rendah kadar oksigen udara cukup tinggi

sehingga absorbsi oksigen oleh pembuluh kapiler dapat berlangsung

secara efektif dengan jumlah eritrosit yang normal. Apa yang akan

terjadi jika orang yang jumlah eritrositnya normal pindah ke dataran

tinggi yang kadar oksigennya rendah? Karena yang bertugas

mengangkut oksigen di dalam tubuh adalah eritrosit, tubuh akan

beradaptasi secara fisiologis dengan meningkatkan jumlah eritrosit

(sel darah merah). Dengan demikian, pengikatan oksigen di dalam

alat pernapasan dapat berjalan efektif.

b. Adaptasi pada sistem pencernaan

Pernahkah kamu melihat saluran pencernaan herbivora,

misalnya sapi? Saluran pencernaan herbivora panjang dan menghasilkan

enzim selulase yang dapat menguraikan selulosa. Dengan

adanya selulase, pencernaan makanan yang berupa tumbuhan menjadi

lebih mudah. Ingatlah, sel tumbuhan mempunyai dinding yang

kuat, yang sulit untuk dicerna hewan.

Adaptasi fisiologi pada sistem pencernaan juga terjadi pada

cacing Teredo navalis (hewan semacam kerang pengebor). Hewan

ini sering disebut cacing kapal karena perusak kayu galangan kapal.

Teredo navalis muda yang baru menetas mempunyai sepasang

cangkok. Pada tepi cangkok terdapat gigi mirip kikir yang berfungsi

mengebor kayu. Setelah dewasa, Teredo navalis menjadi makhluk

mirip cacing. Pada saluran pencernaannya terdapat kelanjar yang

mampu menghasilkan enzim selulase. Dengan enzim itulah kayukayu

yang telah dilumatkan dengan gigi kikirnya dapat dicernakan.c. Adaptasi ikan terhadap salinitas (kadar garam)

Di alam terdapat dua macam perairan yang berbeda kadar

garamnya, yaitu perairan laut dan perairan tawar. Air laut mempunyai

kadar garam yang lebih tinggi daripada air tawar. Ikan yang

hidup di air laut dan air tawar masing-masing memiliki cara adaptasi

yang khusus. Ikan air laut tidak dapat bertahan hidup, jika dipindahkan

ke air tawar, demikian pula sebaliknya.

Ikan air laut mempunyai cairan tubuh berkadar garam lebih

rendah dibandingkan kadar garam di lingkungannya. Ikan tersebut

beradaptasi dengan cara selalu minum dan mengeluarkan urine

sangat sedikit. Hal itu bertujuan untuk menjaga jumlah cairan yang

berada di sel-sel tubuhnya. Garam yang masuk bersama air akan

dikeluarkan secara aktif melalui insang. Tekanan osmosis sel-sel

tubuh ikan air tawar lebih tinggi dibandingkan tekanan osmosis air

di lingkungannya, karena kadar garam sel tubuh ikan air tawar lebih

tinggi daripada kadar garam air lingkungannya. Menurut hukum

osmosis, larutan akan berpindah dari yang bertekanan osmosis

rendah (encer) ke larutan yang bertekanan osmosis tinggi (pekat).

Dengan demikian banyak air yang masuk ke tubuh ikan melalui selsel

tubuh ikan. Untuk menjaga agar cairan tubuhnya tetap

seimbang, ikan tersebut beradaptasi dengan cara sedikit minum dan

mengeluarkan banyak urine.Mengapa ikan mas atau katak tidak mampu hidup di air laut,

sebaliknya paus tidak mampu berada di kolam air tawar? Tekanan

osmosis di dalam sel-sel tubuh ikan air tawar jauh lebih rendah

dibanding tekanan osmosis lingkungan air laut. Akibatnya, apabila

ikan air tawar dimasukkan ke air laut, bentuk preadaptasinya adalah

minum air sebanyak-banyaknya agar cairan di dalam sel-sel tubuh

yang keluar secara osmosis ke lingkungan dapat teratasi. Namun

hal ini akan sulit terus dilakukan karena apabila tekanan osmosis

cairan di dalam sel-sel tubuh terlalu rendah sel-sel tubuh akan

mengerut sehingga ikan air tawar tersebut mati.3. Adaptasi Tingkah laku (adaptasi behavioral)

Adaptasi tingkah laku mudah kita amati karena berupa

perubahan tingkah laku untuk menyesuaikan lingkungannya agar

tetap terjaga kelangsungan hidupnya. Beberapa contoh adaptasi

tingkah laku sebagai berikut.

a. Mimikri

Bunglon mengelabuhi musuhnya dengan mengubah warna

kulitnya. Jika berada di dedaunan, warna kulit bunglon menjadi

hijau. Sebaliknya, apabila berada di tanah, warna kulit bunglon

menjadi seperti tanah (kecokelatan). Perubahan warna kulit sesuai

warna lingkungannya seperti yang dilakukan oleh bunglon tersebut

dinamakan mimikri.

b. Autotomi

Cecak merupakan contoh hewan yang ekornya mudah

putus. Dalam keadaan bahaya, cecak mengelabui musuhnya dengan

cara memutuskan ekornya disebut autotomi. Jika seekor cecak

dikejar oleh pemangsa, ekornya secara mendadak putus dan bergerak-

gerak sehingga perhatian pemangsa akan tertuju pada ekor

yang bergerak tersebut. Kesempatan itu digunakan cecak untuk

menghindarkan diri dari kejaran pemangsa.

c. Hibernasi

Musim dingin adalah musim yang sangat sulit bagi hewan.

Banyak hewan yang tidak dapat bertahan hidup pada musim yang

keras ini. Beberapa hewan melewatinya dengan tetap giat mencari

makan. Sementara itu hewan yang lain bertahan hidup dengan

terlelap dalam suatu tidur khusus yang dinamakan hibernasi. Ciriciri

hewan yang melakukan hibernasi, yaitu suhu tubuh rendah serta

detak jantung dan pernapasan sangat lambat. Tujuannya untuk

menghindari cuaca yang sangat dingin, kekurangan makanan, dan

menghemat energi. Contoh hewan yang melakukan hibernasi antara

lain ular, kura-kura, ikan, dan bengkarung yang tetap tinggal di

sarangnya selama musim dingin.

d. Estivasi

Di beberapa belahan dunia, cuaca yang paling buruk adalah

cuaca pada musim panas. Pada musim panas, udara sangat panas

dan kering. Beberapa hewan bergerak mencari tempat perlindungan

dan tidur. Tidur di musim panas disebut estivasi. Kata ini berasal

dari kata latin yang berarti musim panas. Tujuan hewan melakukan

estivasi adalah untuk menghindari panas yang tinggi dan kekurangan

air. Lemur kerdil, kelelawar, dan beberapa tupai adalah mamalia

yang berestivasi untuk menghindari cuaca kering.

Jenis tanaman jahe-jahean dan rerumputan melakukan

estivasi di musim kemarau dengan mengeringkan dedaunannya.

Adapun, pohon jati melakukan estivasi di musim kering dengan

menggugurkan seluruh daunnya. Hibernasi dan estivasi, keduanya,disebut dormansi. Jadi, dormansi merupakan masa istirahat bagi

makhluk hidup untuk tetap bertahan pada cuaca yang buruk.

e. Adaptasi tingkah laku pada rayap

Rayap adalah golongan serangga penghancur kayu. Mengapa

rayap dengan mudah dapat mencerna kayu? Rayap mampu mencerna

kayu bukan karena mempunyai enzim yang dapat mencerna

kayu, melainkan karena di dalam ususnya terdapat hewan flagellata

yang mampu mencernakan kayu. Hewan flagellata mampu menghasilkan

enzim selulose.

Secara periodik, rayap mengalami pengelupasan kulit. Pada

saat kulit mengelupas, usus bagian belakang ikut terkelupas, sehingga

flagellata turut terbawa oleh usus. Untuk mendapatkan kembali

flagellata tersebut, rayap biasanya memakan kembali kelupasan

kulitnya (Gambar 4.10). Berbeda dengan rayap dewasa, rayap yang

baru menetas suka menjilati dubur rayap dewasa untuk mendapatkan

flagellata.

f. Adaptasi tingkah laku pada mamalia air

Hewan vertebrata dari golongan mamalia dan reptilia yang

hidup di dalam air tetap bernapas dengan paru-paru. Hal itu tampak

jelas pada cara bernapasnya, misalnya paus. Setiap saat paus

muncul ke permukaan air untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya

sampai paru-parunya penuh sekali, yaitu sekitar 3.350 liter.

Setelah itu, paus akan menyelam kembali ke dalam air. Dengan

udara sebanyak itu, paus mampu bertahan selama kira-kira setengah

jam di dalam air. Pada saat muncul kembali di permukaan

air, hasil oksidasi biologi dihembuskan melalui lubang hidung, seperti

pancaran air mancur. Sisa oksidasi ini berupa karbon dioksida

yang jenuh dengan uap air yang telah mengalami pengembunan

(kondensasi).

Untuk lebih memahami adaptasi tingkah laku makhluk hidup,

lakukan kegiatan berikut secara berkelompok. Sebelumnya, bentuklah

satu kelompok yang terdiri atas 4 siswa; 2 laki-laki dan 2

perempuan.B. SELEKSI ALAM Tujuan Pembelajaran

Alam selalu mengalami perubahan yang disebabkan oleh

bencana alam, keadaan suhu yang terlalu dingin atau panas,

pergantian musim, dan sebagainya. Adanya perubahan kondisi alam

tersebut menuntut makhluk hidup untuk melakukan adaptasi.

Masih ingatkah kamu, apa tujuan adaptasi? Tidak semua makhluk

hidup mempunyai kemampuan adaptasi yang sama. Akibatnya, ada

makhluk hidup yang dapat bertahan hidup, namun ada pula yang

musnah karena tidak mampu bertahan hidup.

Selain dipengaruhi oleh perubahan alam, kehidupan makhluk

hidup di muka bumi ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan,

parasit, pemangsa, wabah penyakit, dan sebagainya. Suatu jenis

makhluk hidup akan selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya

sehingga sering kali terjadi persaingan antarmakhluk hidup.

Makhluk hidup yang kuat akan menang dan bertahan, sedangkan

mahluk hidup yang lemah akan kalah dan mati atau menyingkir ke

tempat lain. Makhluk hidup yang menyingkir ke tempat yang baru

tetap hidup, jika mampu beradaptasi. Sebaliknya makhluk itu akan

mati, jika tidak mampu beradaptasi.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa alam seolaholah

melakukan seleksi terhadap makhluk hidup yang ada di

dalamnya. Hanya makhluk hidup yang dapat menyesuaikan diri

terhadap kondisi lingkungan baru yang dapat hidup, sedangkan

yang tidak dapat menyesuaikan diri akan mati. Jadi, seleksi alam

adalah proses pemilihan atau penyeleksian yang dilakukan oleh alam

terhadap makhluk hidup yang dapat beradaptasi karena adanya

perubahan-perubahan alam.

Seleksi alam juga terjadi pada setiap tahap kehidupan makhluk

hidup, yaitu pada saat makhluk hidup belum mencapai masa

reproduksi (masih muda), pada saat masa reproduksi (dalam mencari

pasangan), atau pada masa pembuahan dan masa embrio. Dari

berbagai kemungkinan tersebut, seleksi yang berlangsung sebelum

reproduksi tampaknya yang paling mudah terjadi. Hal itu disebabkan

karena dengan ketidakmampuan makhluk hidup melakukan

reproduksi berarti tidak dapat mewariskan gen kepada keturunannya.

Contoh makhluk hidup yang telah punah karena seleksi alam

adalah dinosaurus. Hewan tersebut telah punah sekitar 65 juta tahun

yang lalu. Perubahan alam yang terjadi secara terus-menerus dalam

jangka waktu yang lama menyebabkan makhluk tersebut tidak

mampu menyesuaikan diri dan akhirnya punah.Sekitar 100 juta tahun yang lalu, konon pernah terjadi hujan

meteor yang mematikan tumbuhan. Akibatnya semua hewan

pemakan tumbuhan (herbivora) musnah dan yang bertahan hidup

tinggallah hewan pemakan daging (karnivora) dan hewan pemakan

segala (omnivora). Hewan-hewan yang masih hidup tersebut akhirnya

secara terus-menerus melakukan persaingan, dan dinosaurus

yang menang adalah kelompok pemakan daging. Namun pada

akhirnya semua dinosaurus tersebut musnah dan dewasa ini kita

hanya dapat mengamati fosilnya.

Punahnya beberapa jenis makhluk hidup juga terjadi di

Indonesia, misalnya badak Jawa dan badak Sumatra. Punahnya

kedua jenis badak itu sebagian besar dikarenakan hilangnya hutan

dataran rendah dan perburuan. Pengobatan tradisional di Timur

Jauh (daratan Cina) masih banyak yang menggunakan bahan dasar

cula badak, juga berperan terhadap kepunahan badak.

Contoh lain peristiwa seleksi alam adalah keadaan populasi

kupu-kupu Biston betularia di Inggris sebelum revolusi industri

dan setelah revolusi industri. Di Inggris ada dua macam Biston

betularia, yaitu kupu-kupu bersayap cerah dan bersayap gelap.

Sebelum terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap

cerah lebih besar daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Adapun

setelah terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap cerah

lebih kecil daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Mengapa

dapat terjadi demikian? Menurut dugaan, hal itu dapat terjadi karena

sebelum revolusi industri lingkungan masih cerah, sehingga kupukupu

bersayap cerah lebih adaptif dari pada kupu-kupu bersayap

gelap. Sebaliknya, setelah revolusi industri keadaan lingkungan

lebih gelap oleh jelaga. Akibatnya kupu-kupu bersayap gelap lebih

adaptif terhadap lingkungannya sedangkan kupu-kupu bersayap

cerah tidak adaptif sehingga lebih mudah ditangkap oleh predator.C. PERKEMBANGBIAKAN

MAKHLUK HIDUP

Setiap makhluk hidup mempunyai usia yang terbatas dan

pada akhirnya akan mati. Banyak tanaman sayuran, seperti sawi,

kol, lobak, dan wortel hanya mempunyai masa hidup sekitar tiga

bulan. Hewan-hewan tertentu, seperti ayam, itik, dan unggas

lainnya mempunyai masa hidup yang lebih pendek dibanding dengan

hewan-hewan, seperti anjing, kucing, sapi dan harimau. Namun,

mengapa makhluk hidup tersebut dapat mempertahankan jenisnya?

1. Peranan Perkembangbiakan

Semua makhluk hidup mempunyai kemampuan berkembang

biak. Ada jenis makhluk hidup yang hanya berkembang biak satu

kali dalam masa hidupnya, seperti sawi, wortel, dan kol. Adapun

hewan yang hanya berkembang biak satu kali dalam masa hidupnya,

misalnya ikan sidat. Walaupun hanya mampu berkembang biak satu

kali dalam masa hidupnya, tumbuhan dan hewan tersebut dapat

mempertahankan jenisnya.

Sekarang ini banyak hewan dan tumbuhan yang hampir

mengalami kepunahan, misalnya burung elang jambul, cenderawasih,

harimau Jawa, badak bercula satu, beruang Bengkulu, dan

bunga Rafflesia arnolldi. Faktor-faktor yang menyebabkan hewan

dan tumbuhan mengalami kepunahan, yaitu daya regenerasi yang

rendah, terdesak oleh populasi lain (kalah bersaing), bencana alam,

dan gangguan manusia.

a. Daya regenerasi rendah

Hewan atau tumbuhan ada yang mampu menghasilkan

keturunan dalam jumlah banyak selama masa hidupnya, namun ada

pula yang hanya menghasilkan keturunan dalam jumlah sangat

sedikit. Badak menjadi dewasa pada umur sekitar 7 tahun dan dapat

mencapai umur 30 tahun. Badak hanya melahirkan satu ekor anak

setiap melakukan perkembangbiakan membutuhkan waktu 3,5

sampai 4 tahun. Rafflesia arnolldi juga mempunyai daya regenerasi

yang rendah, karena hanya dapat tumbuh pada umbi-umbian

tertentu. Beberapa jenis burung mempunyai masa hidup yang

singkat, sehingga keturunan yang dihasilkan dalam masa hidupnya

juga sedikit. Hal tersebut berarti daya regenerasinya juga rendah.b. Terdesak oleh populasi lain

Banyak hewan yang menggantungkan sumber makanan

yang sama, misalnya harimau dan srigala yang sama-sama makan

daging. Dua komponen ekosistem yang menggantungkan sumber

makanan yang sama akan menimbulkan persaingan antarkeduanya.

Komponen yang kalah bersaing akan berpindah tempat atau mati,

jika tidak mendapatkan sumber makanan lain.c. Gangguan manusia

Gangguan dari manusia terlihat pada perburuan hewanhewan

tertentu. Banyak orang memburu gajah untuk diambil

gadingnya atau memburu harimau untuk diambil kulitnya. Ada juga

orang yang memburu burung-burung berbulu indah atau hewanhewan

lain, hanya untuk pajangan di ruang tamu. Gangguan dari

manusia merupakan faktor terbesar yang dapat menyebabkan

kepunahan makhluk hidup. Kita seharusnya dapat bersikap lebih arif

dalam memanfaatkan sumber daya alam. Bagaimana sikap kalian?

2. Cara Perkembangbiakan

Makhluk hidup berkembang biak dengan berbagai cara.

Perkembangbiakan makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi

dua, yaitu perkembangbiakan vegetatif (reproduksi aseksual) dan

perkembangbiakan generatif (reproduksi seksual).

a. Perkembangbiakan vegetatif

Tumbuhan umbi-umbian, seperti kentang, ketela rambat,

dahlia, dan ubi berkembang biak dengan umbinya. Bawang merah

dan bawang putih berkembang biak dengan umbi lapis, sedangkan

pisang berkembang biak dengan tunas. Beberapa jenis mikroorganisme,

seperti Amoeba dan bakteri berkembang biak dengan

membelah diri. Pada prinsipnya, semua perkembangbiakan yang

tidak diawali adanya pertemuan antara sel kelamin jantan dan sel

kelamin betina, disebut perkembangbiakan vegetatif (reproduksi

aseksual).Jumlah induk yang terlibat dalam perkembangbiakan vegetatif

hanya satu. Oleh karena itu, individu baru yang dihasilkannya

mempunyai sifat yang sama dengan sifat induknya. Jadi, jika kamu

ingin memperbanyak tanaman dengan sifat yang sama dengan

induknya sebaiknya dilakukan dengan perkembangbiakan secara

vegetatif. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 4.16.

b. Perkembangbiakan secara generatif

Perkembangbiakan secara generatif atau disebut juga perkembangbiakan

secara kawin adalah peristiwa terbentuknya individu

baru yang di dahului oleh pembuahan (fertilisasi). Pembuahan

adalah peleburan antara sel kelamin jantan dengan sel

kelamin betina. Hasil dari peleburan tersebut berupa zigot.

Organisme yang berkembangbiak secara kawin (generatif)

meliputi berbagai jenis vertebrata (ikan, katak, reptil, burung dan

mamalia) dan avertebrata, seperti cacing tanah, lebah, rayap,

udang, dan sebagainya.Perkembangbiakan secara generatif biasanya melibatkan dua

induk. Oleh karena itu, sifat keturunan hasil perkembangbiakan

tersebut merupakan gabungan dari sifat kedua induknya, sehingga

dapat bervariasi.Selain berkembang biak secara generatif atau vegetatif saja,

ada sebagian makhluk hidup berkembang biak secara keduanya.

Perkembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif amat jarang

terjadi pada hewan. Namun, pada beberapa jenis tumbuhan dapat

terjadi dengan kedua cara tersebut, misalnya lumut dan tumbuhan

hijau.Beberapa contoh makhluk hidup yang dapat melakukan perkembangbiakan

dengan cara generatif dan vegetatif sebagai berikut.

1) Hydra; secara generatif dengan membentuk ovarium dan testis,

secara vegetatif dapat membentuk tunas.

2) Lumut dan tumbuhan paku; secara generatif dengan membentuk

sperma dan ovum, secara vegetatif dengan membentuk spora.

3) Tumbuhan biji (mangga, jambu, dan jeruk) secara generatif dengan

membentuk biji dan secara vegetatif dengan cangkok.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: